Kamis, 23 Mei 2013

Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak, dari sini mulai perjalananku

Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak, lokasinya berada di kampung Krapyak Kulon, desa Panggungharjo, kecamatan Sewon, Bantul Yogyakarta.

PP Al-Munawwir Krapyak Jogjakarta didirikan oleh beliau Simbah KH. M, Moenauwir tepatnya pada tanggal 15 november 1919 M. Pada mulanya pondok pesantren ini dikenal dengan Pondok Pesantren Krapyak, karena lokasinya memang terletak di Dusun Krapyak Kulon dulu di wilayah Kelurahan Krapyak. Kemudian Simbah Munawwir nama Pondok tersebut ditambahi dengan nama beliau Al-Munawwir sehingga lengkaplah namanya menjadi  Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta. Tambahan nama Al-Munawwir ini bertujuan untuk mengenang pendirinya yaitu KH. M. Moenauwir. Pondok ini juga dikenal sebagai pondok pesantren Al-Qur’an karena pada awalnya dulu bidang pendidikan utama yang diajarkan disini adalah menghafal Al Qur'an sesuai dengan bidang keahlian beliau yang sangat mumpuni dan ahli di bidang hafalan Al Qur’an.  Ini kemudian menjadi ciri khusus PP AL-Munawwir Krapyak Jogjakarta.

Sepeninggal beliau PP Al Munawwir dilanjutkan oleh anak cucu dan menantu beliau, bidang pelajaranpun menjadi lebih lengkap, termasuk mempelajari berbagai kitab kuning. Sebagian masyarakat sekitar termasuk keluargaku juga ikut sedikit atau banyak belajar agama Islam di pondok pesantren. Alhamdulillah dari sini aku sempat belajar membaca Al Quraan dan sedikit pelajaran yang lainnya.

Ketika aku (Kang Hasan : penulis) kecil dulu aku ikut orang tuaku yang tinggal di lingkungan kampung krapyak yang bertetangga dengan Pondok Krapyak. Saat itu PP Al Munawwir dipimpin oleh Simbah KH Ali Maksum menantu KH Munawwir. Aku pagi hari sekolah di sekolah dasar (SD) dan sore hari mengikuti pendidikan di Madrasah Diniyyah sore hari.

Suatu hari ayahku memperkenalkan aku dengan seorang tokoh masyarakat di kampung Krapyak, beliau ini adalah seorang guru mursid dari aliran thoriqoh naqsabandiyah. Singkat cerita  beliau bermaksud mengangkatku sebagai murid akupun menyetujuinya. Mulailah aku belajar amalan-amalan tapi kukira memang belum masuk ke ilmu thoriqohnya, barangkali beliau menilai aku masih terlalu kecil. Tapi beliau mengajariku amalan-amalan terkait ayat kursi.

Aku diajari membaca bagian ayat kursi (dibagi menjadi 7 bagian). Bagian pertama sampai kata "sinatun wala naum" dibaca 313 kali selama 3 hari dengan menjalankan puasa putih (tidak makan garam). Terus berikutnya berturut turut bagian-baian yang lainnya dari ayat kursi dengan jumlah hitungan yang berbeda-beda dan dengn cara puasa yang bervariasi (puasa ngrowot : tidak makan nasi tapi boleh makan umbi-umbian) sampai puncaknya membaca ayat kursi 1000 kali sekali duduk selama 40 hari dengan dibarengi puasa mutih.

Diceritakan bahwa dulu ketika Sang Guru melakukan amalan sebagaimana yang aku amalkan ini maka beliau menemui berbagai keanehan dan keluarbiasaan. Tapi anehnya kalau aku setelah mengamalknnya

Kini Alhamdulillah aku telah berlepas diri dari amalan-amalan yang tidak ada tuntunannya dari Allah dan Rasulnya ini. Semoga Allah meneguhkan aku diatas jalanNya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Silahkan berkomentar,
Mohon komentar yang santun agar diskusi kita barokah.