Selasa, 29 Januari 2013

Pengertian Wahabi Dan Siapa Muhammad Bin Abdul Wahhab

PENGERTIAN WAHABI DAN SIAPA MUHAMMAD BIN ADBUL WAHHAB

Oleh
Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu


Orang-orang biasa menuduh "wahabi " kepada setiap orang yang melanggar tradisi, kepercayaan dan bid'ah mereka, sekalipun kepercayaan-kepercayaan mereka itu rusak, bertentangan dengan Al-Qur'anul Karim dan hadits-hadits shahih. Mereka menentang dakwah kepada tauhid dan enggan berdo'a (memohon) hanya kepada Allah semata.

Suatu kali, di depan seorang syaikh penulis membacakan hadits riwayat Ibnu Abbas yang terdapat dalam kitab Al-Arba'in An-Nawa-wiyah. Hadits itu berbunyi.

"Artinya : Jika engkau memohon maka mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, maka mintalah pertolongan kepa-da Allah." [Hadits Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata hadits hasan shahih]

Penulis sungguh kagum terhadap keterangan Imam An-Nawawi ketika beliau mengatakan, "Kemudian jika kebutuhan yang dimintanya -menurut tradisi- di luar batas kemampuan manusia, seperti meminta hidayah (petunjuk), ilmu, kesembuhan dari sakit dan kesehatan maka hal-hal itu (mesti) memintanya hanya kepada Allah semata. Dan jika hal-hal di atas dimintanya kepada makhluk maka itu amat tercela."

Lalu kepada syaikh tersebut penulis katakan, "Hadits ini berikut keterangannya menegaskan tidak dibolehkannya meminta pertolongan kepada selain Allah." Ia lalu menyergah, "Malah sebaliknya, hal itu dibolehkan!"

Penulis lalu bertanya, "Apa dalil anda?" Syaikh itu ternyata marah sambil berkata dengan suara tinggi, "Sesungguhnya bibiku berkata, wahai Syaikh Sa'd![1]" dan Aku bertanya padanya, "Wahai bibiku, apakah Syaikh Sa'd dapat memberi manfaat kepadamu?" Ia menjawab, "Aku berdo'a (meminta) kepadanya, sehingga ia menyampaikannya kepada Allah, lalu Allah menyembuhkanku."

Lalu penulis berkata, "Sesungguhnya engkau adalah seorang alim. Engkau banyak habiskan umurmu untuk membaca kitab-kitab. Tetapi sungguh mengherankan, engkau justru mengambil akidah dari bibimu yang bodoh itu."

Ia lalu berkata, "Pola pikirmu adalah pola pikir wahabi. Engkau pergi berumrah lalu datang dengan membawa kitab-kitab wahabi."

Padahal penulis tidak mengenal sedikitpun tentang wahabi kecuali sekedar penulis dengar dari para syaikh. Mereka berkata tentang wahabi, "Orang-orang wahabi adalah mereka yang melanggar tradisi orang kebanyakan. Mereka tidak percaya kepada para wali dan karamah-karamahnya, tidak mencintai Rasul dan berbagai tuduhan dusta lainnya."

Jika orang-orang wahabi adalah mereka yang percaya hanya kepada pertolongan Allah semata, dan percaya yang menyembuhkan hanyalah Allah, maka aku wajib mengenal wahabi lebih jauh."

Kemudian penulis tanyakan jama'ahnya, sehingga penulis mendapat informasi bahwa pada setiap Kamis sore mereka menyelenggarakan pertemuan untuk mengkaji pelajaran tafsir, hadits dan fiqih.

Bersama anak-anak penulis dan sebagian pemuda intelektual, penulis mendatangi majelis mereka. Kami masuk ke sebuah ruangan yang besar. Sejenak kami menanti, sampai tiada berapa lama seorang syaikh yang sudah berusia masuk ruangan. Beliau memberi salam kepada kami dan menjabat tangan semua hadirin dimulai dari sebelah kanan, beliau lalu duduk di kursi dan tak seorang pun berdiri untuknya. Penulis berkata dalam hati, "Ini adalah seorang syaikh yang tawadhu' (rendah hati), tidak suka orang berdiri untuknya (dihormati)."

Lalu syaikh membuka pelajaran dengan ucapan,

"Artinya : Sesungguhnya segala puji adalah untuk Allah. Kepada Allah kami memuji, memohon pertolongan dan ampunan.", dan selanjutnya hingga selesai, sebagaimana Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa membuka khutbah dan pelajarannya.

Kemudian Syaikh itu memulai bicara dengan menggunakan bahasa Arab. Beliau menyampaikan hadits-hadits seraya menjelaskan derajat shahihnya dan para perawinya. Setiap kali menyebut nama Nabi, beliau mengucapkan shalawat atasnya. Di akhir pelajaran, beberapa soal tertulis diajukan kepadanya. Beliau menjawab soal-soal itu dengan dalil dari Al-Qur'anul Karim dan sunnah Nabi Shalallaahu alaihi wasalam . Beliau berdiskusi dengan hadirin dan tidak menolak setiap penanya. Di akhir pelajaran, beliau berkata, "Segala puji bagi Allah bahwa kita termasuk orang-orang Islam dan salaf.[2]. Sebagian orang menuduh kita orang-orang wahabi. Ini termasuk tanaabuzun bil alqaab (memanggil dengan panggilan-panggilan yang buruk). Allah melarang kita dari hal itu dengan firmanNya,

"Artinya : Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk." [Al-Hujurat: 11]

Dahulu, mereka menuduh Imam Syafi'i dengan rafidhah. Beliau lalu membantah mereka dengan mengatakan, "Jika rafidah (berarti) mencintai keluarga Muhammad. Maka hendaknya jin dan manusia menyaksikan bahwa sesungguhnya aku adalah rafidhah."

Maka, kita juga membantah orang-orang yang menuduh kita wahabi, dengan ucapan salah seorang penyair, "Jika pengikut Ahmad adalah wahabi. Maka aku berikrar bahwa sesungguhnya aku wahabi."

Ketika pelajaran usai, kami keluar bersama-sama sebagian para pemuda. Kami benar-benar dibuat kagum oleh ilmu dan kerendahan hatinya. Bahkan aku mendengar salah seorang mereka berkata, "Inilah syaikh yang sesungguhnya!"

PENGERTIAN WAHABI
Musuh-musuh tauhid memberi gelar wahabi kepada setiap muwahhid (yang mengesakan Allah), nisbat kepada Muhammad bin Abdul Wahab, Jika mereka jujur, mestinya mereka mengatakan Muhammadi nisbat kepada namanya yaitu Muhammad. Betapapun begitu, ternyata Allah menghendaki nama wahabi sebagai nisbat kepada Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari nama-nama Allah yang paling baik (Asmaa'ul Husnaa).

Jika shufi menisbatkan namanya kepada jama'ah yang memakai shuf (kain wol) maka sesungguhnya wahabi menisbatkan diri mereka dengan Al-Wahhab (Yang Maha Pemberi), yaitu Allah yang memberikan tauhid dan meneguhkannya untuk berdakwah kepada tauhid.

MUHAMMAD BIN ABDUL WAHAB
Beliau dilahirkan di kota 'Uyainah, Nejed pada tahun 1115 H. Hafal Al-Qur'an sebelum berusia sepuluh tahun. Belajar kepada ayahandanya tentang fiqih Hambali, belajar hadits dan tafsir kepada para syaikh dari berbagai negeri, terutama di kota Madinah. Beliau memahami tauhid dari Al-Kitab dan As-Sunnah. Perasaan beliau tersentak setelah menyaksikan apa yang terjadi di negerinya Nejed dengan negeri-negeri lainnya yang beliau kunjungi berupa kesyirikan, khurafat dan bid'ah. Demikian juga soal menyucikan dan mengkultuskan kubur, suatu hal yang bertentangan dengan ajaran Islam yang benar.

Ia mendengar banyak wanita di negerinya bertawassul dengan pohon kurma yang besar. Mereka berkata, "Wahai pohon kurma yang paling agung dan besar, aku menginginkan suami sebelum setahun ini."

Di Hejaz, ia melihat pengkultusan kuburan para sahabat, keluarga Nabi (ahlul bait), serta kuburan Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, hal yang sesungguhnya tidak boleh dilakukan kecuali hanya kepada Allah semata.

Di Madinah, ia mendengar permohonan tolong (istighaatsah) kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam, serta berdo'a (memohon) kepada selain Allah, hal yang sungguh bertentangan dengan Al-Qur'an dan sabda Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Al-Qur'an menegaskan:

"Artinya : Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfa'at dan tidak (pula) memberi madharat kepadamu selain Allah, sebab jika kamu berbuat (yang demikian) itu, sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang zhalim." [Yunus : 106]

Zhalim dalam ayat ini berarti syirik. Suatu kali, Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam berkata kepada anak pamannya, Abdullah bin Abbas:

"Artinya : Jika engkau memohon, mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan mintalah pertolongan kepada Allah." [Hadits Riwayat At-Tirmidzi, ia berkata hasan shahih)

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyeru kaumnya kepada tauhid dan berdo'a (memohon) kepada Allah semata, sebab Dialah Yang Mahakuasa dan Yang Maha Menciptakan sedangkan selainNya adalah lemah dan tak kuasa menolak bahaya dari dirinya dan dari orang lain. Adapun mahabbah (cinta kepada orang-orang shalih), adalah dengan mengikuti amal shalihnya, tidak dengan menjadikannya sebagai perantara antara manusia dengan Allah, dan juga tidak menjadikannya sebagai tempat bermohon selain daripada Allah.

1. Penentangan Orang-Orang Batil Terhadapnya
Para ahli bid'ah menentang keras dakwah tauhid yang dibangun oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Ini tidak mengherankan, sebab musuh-musuh tauhid telah ada sejak zaman Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Bahkan mereka merasa heran terhadap dakwah kepada tauhid. Allah berfirman:

"Artinya : Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan." [Shaad : 5]

Musuh-musuh syaikh memulai perbuatan kejinya dengan memerangi dan menyebarluaskan berita-berita bohong tentangnya. Bahkan mereka bersekongkol untuk membunuhnya dengan maksud agar dakwahnya terputus dan tak berkelanjutan. Tetapi Allah Subhannahu wa Ta'ala menjaganya dan memberinya penolong, sehingga dakwah tauhid terbesar luas di Hejaz, dan di negara-negara Islam lainnya.

Meskipun demikian, hingga saat ini, masih ada pula sebagian manusia yang menyebarluaskan berita-berita bohong. Misalnya mereka mengatakan, dia (Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab) adalah pembuat madzhab yang kelima[3], padahal dia adalah seorang penganut madzhab Hambali. Sebagian mereka mengatakan, orang-orang wahabi tidak mencintai Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam serta tidak bershalawat atasnya. Mereka anti bacaan shalawat.

Padahal kenyataannya, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah- telah menulis kitab "Mukhtashar Siiratur Rasuul Shalallaahu alaihi wasalam ". Kitab ini bukti sejarah atas kecintaan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam. Mereka mengada-adakan berbagai cerita dusta tentang Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, suatu hal yang karenanya mereka bakal dihisab pada hari Kiamat.

Seandainya mereka mau mempelajari kitab-kitab beliau dengan penuh kesadaran, niscaya mereka akan menemukan Al-Qur'an, hadits dan ucapan sahabat sebagai rujukannya.

Seseorang yang dapat dipercaya memberitahukan kepada penulis, bahwa ada salah seorang ulama yang memperingatkan dalam pengajian-pengajiannya dari ajaran wahabi. Suatu hari, salah seorang dari hadirin memberinya sebuah kitab karangan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Sebelum diberikan, ia hilangkan terlebih dahulu nama pengarangnya. Ulama itu membaca kitab tersebut dan amat kagum dengan kandungannya. Setelah mengetahui siapa penulis buku yang dibaca, mulailah ia memuji Muhammad bin Abdul Wahab.

2. Dalam Sebuah Hadits Disebutkan:

" Artinya : Ya Allah, berilah keberkahan kepada kami di negeri Syam, dan di negeri Yaman. Mereka berkata, 'Dan di negeri Nejed.' Rasulullah berkata, 'Di sana banyak terjadi berbagai kegoncangan dan fitnah, dan di sana (tempat) munculnya para pengikut setan." [Hadits Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]

Ibnu Hajar Al-'Asqalani dan ulama lainnya menyebutkan, yang dimaksud Nejed dalam hadits di atas adalah Nejed Iraq. Hal itu terbukti dengan banyaknya fitnah yang terjadi di sana. Kota yang juga di situ Al-Husain bin Ali Radhiyallahu anhuma dibunuh.

Hal ini berbeda dengan anggapan sebagian orang, bahwa yang dimaksud dengan Nejed adalah Hejaz, kota yang tidak pernah tampak di dalamnya fitnah sebagaimana yang terjadi di Iraq. Bahkan seba-liknya, yang tampak di Nejed Hejaz adalah tauhid, yang karenanya Allah menciptakan alam, dan karenanya pula Allah mengutus para rasul.

3. Sebagian Ulama Yang Adil Sesungguhnya Menyebutkan
Bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab adalah salah seorang mujaddid (pembaharu) abad dua belas Hijriyah. Mereka menulis buku-buku tentang beliau. Di antara para pengarang yang menulis buku tentang Syaikh adalah Syaikh Ali Thanthawi. Beliau menulis buku tentang "Silsilah Tokoh-tokoh Sejarah", di antara mereka terdapat Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab dan Ahmad bin 'Irfan.

Dalam buku tersebut beliau menyebutkan, akidah tauhid sampai ke India dan negeri-negeri lainnya melalui jama'ah haji dari kaum muslimin yang terpengaruh dakwah tauhid di kota Makkah. Karena itu, kompeni Inggris yang menjajah India ketika itu, bersama-sama dengan musuh-musuh Islam memerangi akidah tauhid tersebut. Hal itu dilakukan karena mereka mengetahui bahwa akidah tauhid akan menyatukan umat Islam dalam melawan mereka.

Selanjutnya mereka mengomando kepada kaum Murtaziqah[4] agar mencemarkan nama baik dakwah kepada tauhid. Maka mereka pun menuduh setiap muwahhid yang menyeru kepada tauhid dengan kata wahabi. Kata itu mereka maksudkan sebagai padanan dari tukang bid'ah, sehingga memalingkan umat Islam dari akidah tauhid yang menyeru agar umat manusia berdo'a hanya semata-mata kepada Allah. Orang-orang bodoh itu tidak mengetahui bahwa kata wahabi adalah nisbat kepada Al-Wahhaab (yang Maha Pemberi), yaitu salah satu dari Nama-nama Allah yang paling baik (Asma'ul Husna) yang memberikan kepadanya tauhid dan menjanjikannya masuk Surga.

[Disalin dari kitab Minhajul Firqah An-Najiyah Wat Thaifah Al-Manshurah, edisi Indonesia Jalan Golongan Yang Selamat, Penulis Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu, Penerjemah Ainul Haris Umar Arifin Thayib, Penerbit Darul Haq]
_______
Footnote
[1]. Dia memohon pertolongan kepada Syaikh Sa'ad yang dikuburkan di dalam masjidnya.
[2]. Orang-orang Salaf adalah mereka yang mengikuti jalan para Salafus Shalih. Yaitu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam, para sahabat dan tabi'in
[3].Sebab yang terkenal dalam dunia Fiqih hanya ada empat madzhab, Hanafi, Maliki, Syafi'i dan Hambali.
[4]. Kaum Murtaziqoh yaitu orang-orang bayaran.

Sumber : http://almanhaj.or.id/content/1780/slash/0/pengertian-wahabi-dan-siapa-muhammad-bin-abdul-wahhab/

Kathok congklang, ciri salafy?

Banyak orang yang tidak suka kalau melihat orang yang pakai celana tidak isbal (tidak menjulur ke bawah mata kaki) kemudian mengolok olok sebagai kathok congklang, kebanjiran dan sebagainya. Padahal sebenarnya ajaran tentang tidak isbal ini telah dikenal dan dipegang oleh berbagai golongan termasuk masyarakat NU juga banyak mempaktikkannya.

Jadi sebenarnya tidak sepantasnya kalau ada orang yang tidak suka pada oknum salafy karena memakai celana congklang, karena itu adalah bagian dari syariat Islam. Seharusnya kathok congklang/sarung congklang bukan hanya ciri salafy tapi ini adalah ciri muslim. Semestinya Anda juga mempraktikannya.

Berikut kami ambilkan postingan sahabat tentang masalah ini, silahkan menyimak. 
 


Syubhat Seputar Larangan Isbal


Isbal artinya menjulurkan pakaian melebihi mata kaki. Isbal terlarang dalam Islam, hukumnya minimal makruh atau bahkan haram. Banyak sekali dalil dari hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam yang mendasari hal ini.
Dalil seputar masalah ini ada dua jenis:
Pertama, mengharamkan isbal jika karena sombong.
Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:
من جر ثوبه خيلاء ، لم ينظر الله إليه يوم القيامة . فقال أبو بكر : إن أحد شقي ثوبي يسترخي ، إلا أن أتعاهد ذلك منه ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إنك لن تصنع ذلك خيلاء . قال موسى : فقلت لسالم : أذكر عبد الله : من جر إزاره ؟ قال : لم أسمعه ذكر إلا ثوبه
Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat. Abu Bakar lalu berkata: ‘Salah satu sisi pakaianku akan melorot kecuali aku ikat dengan benar’. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Engkau tidak melakukan itu karena sombong’.Musa bertanya kepada Salim, apakah Abdullah bin Umar menyebutkan lafadz ‘barangsiapa menjulurkan kainnya’? Salim menjawab, yang saya dengan hanya ‘barangsiapa menjulurkan pakaiannya’. ”. (HR. Bukhari 3665, Muslim 2085)
بينما رجل يجر إزاره من الخيلاء خسف به فهو يتجلجل في الأرض إلى يوم القيامة.
Ada seorang lelaki yang kainnya terseret di tanah karena sombong. Allah menenggelamkannya ke dalam bumi. Dia meronta-ronta karena tersiksa di dalam bumi hingga hari Kiamat terjadi”. (HR. Bukhari, 3485)
لا ينظر الله يوم القيامة إلى من جر إزاره بطراً
Pada hari Kiamat nanti Allah tidak akan memandang orang yang menyeret kainnya karena sombong” (HR. Bukhari 5788)
Kedua, hadits-hadits yang mengharamkan isbal secara mutlak baik karena sombong ataupun tidak.
Nabi shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda:
ما أسفل من الكعبين من الإزار ففي النار
Kain yang panjangnya di bawah mata kaki tempatnya adalah neraka” (HR. Bukhari 5787)
ثلاثة لا يكلمهم الله يوم القيامة ولا ينظر إليهم ولا يزكيهم ولهم عذاب أليم المسبل والمنان والمنفق سلعته بالحلف الكاذب
Ada tiga jenis manusia yang tidak akan diajak biacar oleh Allah pada hari Kiamat, tidak dipandang, dan tidak akan disucikan oleh Allah. Untuk mereka bertiga siksaan yang pedih. Itulah laki-laki yang isbal, orang yang mengungkit-ungkit sedekah dan orang yang melariskan barang dagangannya dengan sumpah palsu”. (HR. Muslim, 106)
لا تسبن أحدا ، ولا تحقرن من المعروف شيئا ، ولو أن تكلم أخاك وأنت منبسط إليه وجهك ، إن ذلك من المعروف ، وارفع إزارك إلى نصف الساق ، فإن أبيت فإلى الكعبين ، وإياك وإسبال الإزار ؛ فإنه من المخيلة ، وإن الله لا يحب المخيلة
Janganlah kalian mencela orang lain. Janganlah kalian meremehkan kebaikan sedikitpun, walaupun itu hanya dengan bermuka ceria saat bicara dengan saudaramu. Itu saja sudah termasuk kebaikan. Dan naikan kain sarungmu sampai pertengahan betis. Kalau engkau enggan, maka sampai mata kaki. Jauhilah isbal dalam memakai kain sarung. Karena isbal itu adalah kesombongan. Dan Allah tidak menyukai kesombongan” (HR. Abu Daud 4084, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud)
مَرَرْتُ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِي إِزَارِي اسْتِرْخَاءٌ فَقَالَ: يَا عَبْدَ اللَّهِ ارْفَعْ إِزَارَكَ! فَرَفَعْتُهُ. ثُمَّ قَالَ: زِدْ! فَزِدْتُ. فَمَا زِلْتُ أَتَحَرَّاهَا بَعْدُ. فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ: إِلَى أَيْنَ؟ فَقَالَ: أَنْصَافِ السَّاقَيْنِ
Aku (Ibnu Umar) pernah melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara kain sarungku terjurai (sampai ke tanah). Beliau pun bersabda, “Hai Abdullah, naikkan sarungmu!”.  Aku pun langsung menaikkan kain sarungku. Setelah itu Rasulullah bersabda, “Naikkan lagi!” Aku naikkan lagi. Sejak itu aku selalu menjaga agar kainku setinggi itu.” Ada beberapa orang yang bertanya, “Sampai di mana batasnya?” Ibnu Umar menjawab, “Sampai pertengahan kedua betis.” (HR. Muslim no. 2086)
Dari Mughirah bin Syu’bah Radhiallahu’anhu beliau berkata:
رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم أخذ بحجزة سفيان بن أبي سهل فقال يا سفيان لا تسبل إزارك فإن الله لا يحب المسبلين
Aku melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam mendatangu kamar Sufyan bin Abi Sahl, lalu beliau berkata: ‘Wahai Sufyan, janganlah engkau isbal. Karena Allah tidak mencintai orang-orang yang musbil’” (HR. Ibnu Maajah no.2892, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Ibni Maajah)
Dari dalil-dalil di atas, para ulama sepakat haramnya isbal karena sombong dan berbeda pendapat mengenai hukum isbal jika tanpa sombong. Syaikh Alwi bin Abdil Qadir As Segaf berkata:
“Para ulama bersepakat tentang haramnya isbal karena sombong, namun mereka berbeda pendapat jika isbal dilakukan tanpa sombong dalam 2 pendapat:
Pertama, hukumnya boleh disertai ketidak-sukaan (baca: makruh), ini adalah pendapat kebanyakan ulama pengikut madzhab yang empat.
Kedua, hukumnya haram secara mutlak. Ini adalah satu pendapat Imam Ahmad, yang berbeda dengan pendapat lain yang masyhur dari beliau. Ibnu Muflih berkata : ‘Imam Ahmad Radhiallahu’anhu Ta’ala berkata, yang panjangnya di bawah mata kaki tempatnya adalah neraka, tidak boleh menjulurkan sedikitpun bagian dari pakaian melebihi itu. Perkataan ini zhahirnya adalah pengharaman’ (Al Adab Asy Syari’ah, 3/492). Ini juga pendapat yang dipilih Al Qadhi ‘Iyadh, Ibnul ‘Arabi ulama madzhab Maliki, dan dari madzhab Syafi’i ada Adz Dzahabi dan Ibnu Hajar Al Asqalani cenderung menyetujui pendapat beliau.  Juga merupakan salah satu pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, pendapat madzhab Zhahiriyyah, Ash Shan’ani, serta para ulama di masa ini yaitu Syaikh Ibnu Baaz, Al Albani, Ibnu ‘Utsaimin. Pendapat kedua inilah yang sejalan dengan berbagai dalil yang ada.
Dan kewajiban kita bila ulama berselisih yaitu mengembalikan perkaranya kepada Qur’an dan Sunnah. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:
فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An Nisa: 59)
Dan dalil-dalil yang mengharamkan secara mutlak sangat jelas dan tegas”
(Sumber : http://www.dorar.net/art/144 )
Jadi Islam melarang isbal, baik larangan sampai tingkatan haram atau tidak. Tapi sungguh disayangkan larangan ini agaknya sudah banyak tidak diindahkan lagi oleh umat Islam. Karena kurang ilmu dan perhatian mereka terhadap agamanya. Lebih lagi, adanya sebagian oknum yang menebarkan syubhat (kerancuan) seputar hukum isbal sehingga larangan isbal menjadi aneh dan tidak lazim di mata umat. Berikut ini beberapa syubhat tersebut:
Syubhat 1: Memakai pakaian atau celana ngatung agar tidak isbal adalah ajaran aneh dan nyeleneh
Bagaimana mungkin larangan isbal dalam Islam dianggap nyeleneh padahal dalil mengenai hal ini sangat banyak dan sangat mudah ditemukan dalam kitab-kitab hadits dan buku-buku fiqih. Lebih lagi, larangan isbal dibahas oleh ulama 4 madzhab besar dalam Islam dan sama sekali bukan hal aneh dan asing bagi orang-orang yang mempelajari agama. Berikut ini kami nukilkan beberapa perkataan para ulama madzhab mengenai hukum isbal sebagai bukti bahwa pembahasan larangan isbal itu dibahas oleh para ulama 4 madzhab dari dulu hingga sekarang.
Madzhab Maliki
Ibnu ‘Abdil Barr dalam At Tamhid (3/249) :
وقد ظن قوم أن جر الثوب إذا لم يكن خيلاء فلا بأس به واحتجوا لذلك بما حدثناه عبد الله بن محمد بن أسد …. قال رسول الله صلى الله عليه و سلم : «من جر ثوبه خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة» فقال أبو بكر: إن أحد شقى ثوبي ليسترخي إلا أن أتعاهد ذلك منه،فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم: «إنك لست تصنع ذلك خيلاء» قال موسى قلت لسالم أذَكر عبد الله من جر إزاره،قال لم أسمعه إلا ذكر ثوبه،وهذا إنما فيه أن أحد شقى ثوبه يسترخي، لا أنه تعمد ذلك خيلاء، فقال له رسول الله صلى الله عليه و سلم: «لست ممن يرضى ذلك» ولا يتعمده ولا يظن بك ذلك
“Sebagian orang menyangka bahwa menjulurkan pakaian jika tidak karena sombong itu tidak mengapa. Mereka berdalih dengan riwayat dari Abdullah bin Muhammad bin Asad (beliau menyebutkan sanadnya) bahwa Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong, tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat’. Abu Bakar lalu berkata: ‘Salah satu sisi pakaianku akan melorot kecuali aku ikat dengan benar’. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Engkau tidak melakukan itu karena sombong’. Musa bertanya kepada Salim, apakah Abdullah bin Umar menyebutkan lafadz ‘barangsiapa menjulurkan kainnya’? Salim menjawab, yang saya dengan hanya ‘barangsiapa menjulurkan pakaiannya‘.
Dalam kasus ini yang melorot hanya satu sisi pakaiannya saja, bukan karena Abu Bakar sengaja memelorotkan pakaiannya. Oleh karena itulah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: ‘Engkau bukanlah termasuk orang yang dengan suka rela melakukan hal tersebut, bersengaja melakukan hal tersebut dan tidak mungkin ada orang yang punya praduga bahwa engkau wahai Abu Bakar melakukan hal tersebut dengan sengaja“.
Abul Walid Sulaiman Al Baaji dalam Al Muntaqa Syarh Al Muwatha (9/314-315)  :
وقوله صلى الله عليه وسلم الذي يجر ثوبه خيلاء يقتضي تعلق هذا الحكم بمن جره خيلاء، أما من جره لطول ثوب لا يجد غيره، أو عذر من الأعذار فإنه لا يتناوله الوعيد… قوله صلى الله عليه وسلم: «إزارة المؤمن إلى أنصاف ساقيه»، يحتمل أن يريد به والله أعلم أن هذه صفة لباسه الإزار؛ لأنه يلبس لبس المتواضع المقتصد المقتصر على بعض المباح، ويحتمل أن يريد به أن هذا القدر المشروع له ويبين هذا التأويل قوله صلى الله عليه وسلم :لا جناح عليه فيما بينه وبين الكعبين يريد والله أعلم أن هذا لو لم يقتصر على المستحب مباح لا إثم عليه فيه ، وإن كان قد ترك الأفضل
“Sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallambarangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong‘ ini menunjukkan hukumnya terkait bagi orang yang melakukannya karena sombong. Adapun orang yang pakaiannya panjang dan ia tidak punya yang lain (hanya punya satu), atau orang yang punya udzur lain, maka tidak termasuk ancaman hadits ini. Dan sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam: ‘Kainnya orang mu’min itu sepertengahan betis’, dimungkinkan -wallahu’alam- inilah deskripsi pakaian beliau. Karena beliau lebih menyukai memakai pakaian ketawadhu’an, yaitu yang seadanya, dibanding pakaian lain yang mubah. Dimungkinkan juga, perkataan beliau ini menunjukkan kadar yang masyru’ [baca: yang dianjurkan]. Tafsiran ini diperjelas oleh sabda beliau yang lain: ‘Tidak mengapa bagi mereka untuk mengenakan antara paha dan pertengahan betis’. Beliau ingin mengatakan -wallahu’alam- bahwa kalau tidak mencukupkan diri pada yang mustahab [setengah betis], maka boleh dan tidak berdosa. Namun telah meninggalkan yang utama”.
Catatan:
Perhatikan, Al Baji berpendapat bahwa larangan isbal tidak sampai haram jika tidak sombong. Namun beliau  mengatakan bahwa yang ditoleransi untuk memakai pakaian lebih dari mata kaki adalah yang hanya memiliki 1 pakaian saja dan yang memiliki udzur!!
Mazhab Hambali
Abu Naja Al Maqdisi:
ويكره أن يكون ثوب الرجل إلى فوق نصف ساقه وتحت كعبه بلا حاجة لا يكره ما بين ذلك
“Makruh hukumnya pakaian seorang lelaki panjangnya di atas pertengahan betis atau melebihi mata kaki tanpa adanya kebutuhan. Jika di antara itu [pertengahan betis sampai sebelum mata kaki] maka tidak makruh” (Al Iqna, 1/91)
Ibnu Qudamah Al Maqdisi :
ويكره إسبال القميص والإزار والسراويل ؛ لأن النبي صلى الله عليه وسلم أمر بَرفْع الإزار . فإن فعل ذلك على وجه الخيلاء حَرُم
“Makruh hukumnya isbal pada gamis, sarung atau sarowil (celana). Karena Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam memerintahkan untuk meninggalkan ketika memakai izar (sarung). Jika melakukan hal itu karena sombong, maka haram” (Al Mughni, 1/418)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah:
وإن كان الإسبال والجر منهياً عنه بالاتفاق والأحاديث فيه أكثر، وهو محرم على الصحيح، لكن ليس هو السدل
“Walaupun memang isbal dan menjulurkan pakaian itu itu terlarang berdasarkan kesepakatan ulama serta hadits yang banyak, dan ia hukumnya haram menurut pendapat yang tepat, namun isbal itu berbeda dengan sadl” (Iqtidha Shiratil Mustaqim, 1/130)
Madzhab Hanafi
As Saharunfuri :
قال العلماء : المستحب في الإزار والثوب إلى نصف الساقين ، والجائز بلا كراهة ما تحته إلى الكعبين ، فما نـزل عن الكعبين فهو ممنوع . فإن كان للخيلاء فهو ممنوع منع تحريم وإلا فمنع تنـزيه
“Para ulama berkata, dianjurkan memakai sarung dan pakaian panjangnya sampai setengah betis. Hukumnya boleh (tanpa makruh) jika melebihi setengah betis hingga mata kaki. Sedangkan jika melebihi mata kaki maka terlarang. Jika melakukannya karena sombong maka haram, jika tidak maka makruh” (Bazlul Majhud, 16/411)
Dalam kitab Fatawa Hindiyyah (5/333) :
تَقْصِيرُ الثِّيَابِ سُنَّةٌ وَإِسْبَالُ الْإِزَارِ وَالْقَمِيصِ بِدْعَةٌ يَنْبَغِي أَنْ يَكُونَ الْإِزَارُ فَوْقَ الْكَعْبَيْنِ إلَى نِصْفِ السَّاقِ وَهَذَا فِي حَقِّ الرِّجَالِ، وَأَمَّا النِّسَاءُ فَيُرْخِينَ إزَارَهُنَّ أَسْفَلَ مِنْ إزَارِ الرِّجَالِ لِيَسْتُرَ ظَهْرَ قَدَمِهِنَّ. إسْبَالُ الرَّجُلِ إزَارَهُ أَسْفَلَ مِنْ الْكَعْبَيْنِ إنْ لَمْ يَكُنْ لِلْخُيَلَاءِ فَفِيهِ كَرَاهَةُ تَنْزِيهٍ
“Memendekkan pakaian (sampai setengah betis) hukumnya sunnah. Dan isbal pada sarung dan gamis itu bid’ah. Sebaiknya sarung itu di atas mata kaki sampai setengah betis. Ini untuk laki-laki. Sedangkan wanita hendaknya menurunkan kainnya melebihi kain lelaki untuk menutup punggung kakinya. Isbalnya seorang lelaki melebihi mata kaki jika tidak karena sombong maka hukumnya makruh”

Madzhab Syafi’i
An Nawawi:
فما نـزل عن الكعبين فهو ممنوع ، ، فإن كان للخيلاء فهو ممنوع منع تحريم وإلا فمنع تنـزيه
“Kain yang melebihi mata kaki itu terlarang. Jika melakukannya karena sombong maka haram, jika tidak maka makruh” (Al Minhaj, 14/88)
Ibnu Hajar Al Asqalani :
وحاصله: أن الإسبال يستلزم جرَّ الثوب، وجرُّ الثوب يستلزم الخيلاء، ولو لم يقصد اللابس الخيلاء، ويؤيده: ما أخرجه أحمد بن منيع من وجه آخر عن ابن عمر في أثناء حديث رفعه: ( وإياك وجر الإزار؛ فإن جر الإزار من المخِيلة
“Kesimpulannya, isbal itu pasti menjulurkan pakaian. Sedangkan menjulurkan pakaian itu merupakan kesombongan, walaupun si pemakai tidak bermaksud sombong. Dikuatkan lagi dengan riwayat dari  Ahmad bin Mani’ dengan sanad lain dari Ibnu Umar. Di dalam hadits tersebut dikatakan ‘Jauhilah perbuatan menjulurkan pakaian, karena menjulurkan pakaian itu adalah kesombongan‘” (Fathul Baari, 10/264)
Dengan demikian tidak benar bahwa larangan isbal itu adalah ajaran aneh dan nyeleneh. Lebih lagi jika sampai mencela orang yang menjauhi larangan isbal dengan sebutan ‘kebanjiran‘, ‘kurang bahan‘, dll. Allahul musta’an.
Syubhat 2: Masak gara-gara celana saja masuk neraka?
Pernyataan ini tidak keluar kecuali dari orang-orang yang enggan taat kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Sungguh Allah Maha Berkehendak menentukan perbuatan apa yang menyebabkan masuk neraka, melalui firman-Nya atau pun melalui sabda Nabi-Nya. Allah Ta’ala berfirman:
لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ يُسْأَلُونَ
Allah tidak ditanya oleh hamba, namun merekalah yang akan ditanyai oleh Allah” (QS. Al Anbiya: 23)
Perbuatan yang dianggap sepele oleh manusia ternyata dapat menyebabkan masuk neraka bisa jadi merupakan ujian dari Allah untuk mengetahui mana hamba-Nya yang benar beriman. Karena orang yang beriman kepada Allah-lah yang senantiasa taat dan tunduk kepada hukum agama, Allah berfirman:
إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Hanya ucapan orang-orang beriman, yaitu ketika mereka diajak menaati Allah dan Rasul-Nya agar Rasul-Nya tersebut memutuskan hukum diantara kalian, maka mereka berkata: Sami’na Wa Atha’na (Kami telah mendengar hukum tersebut dan kami akan taati). Merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. An Nuur: 51)
Bukan hanya masalah isbal, Islam mengatur hukum-hukum kehidupan sampai perkara terkecil. Ketika Salman Al Farisi ditanya:
قد علمكم نبيكم صلى الله عليه وسلم كل شيء . حتى الخراءة . قال ، فقال : أجل . لقد نهانا أن نستقبل القبلة لغائط أو بول . أو أن نستنجي باليمين . أو أن نستنجي بأقل من ثلاثة أحجار . أو أن نستنجي برجيع أو بعظم
Nabi kalian telah mengajari kalian segala hal hingga masalah buang air besar? (Beliau menjawab: ) Benar. Beliau melarang kami menghadap kiblat ketika kencing atau buang hajat, bersuci dengan tangan kanan, bersuci dengan kurang dari tiga buah batu, dan bersuci dengan kotoran atau tulang” (HR. Muslim, 262)
Orang-orang yang meremehkan larangan isbal, bagaimana lagi sikap mereka terhadap aturan-aturan Islam dalam buang hajat, dalam makan, dalam tidur, dalam memakai sandal, dan perkara lain yang nampaknya sepele?
Syubhat 3: Larangan isbal hanya berlaku pada kain sarung
Sebagian orang beranggapan larangan isbal hanya berlaku pada kain sarung saja, karena di dalam hadits hanya disebutkan من جر إزاره ‘barangsiapa yang menjulurkan izaar (kain sarung) nya‘. Atau ada juga yang beranggapan bahwa larangan isbal hanya berlaku pada kain sarung, gamis dan imamah sebagaimana hadits:
الإسبال في الإزار والقميص والعمامة من جر منها شيئا خيلاء لم ينظر الله إليه يوم القيامة
Isbal itu pada kain sarung, gamis dan imamah. Barangsiapa menjulurkannya sedikit saja karena sombong, tidak akan dipandang oleh Allah di hari kiamat
Sehingga mereka beranggapan bahwa isbal untuk pakaian lain, misalnya celana pantalon, itu bukan yang dimaksud oleh hadits-hadits larangan isbal.
Anggapan ini salah. Larangan isbal juga berlaku pada model pakaian zaman sekarang seperti celana panjang pantalon. Syaikh Ali Hasan Al Halabi membantah anggapan ini, beliau berkata, “Sebagian orang mengira bahwa hadits ini menunjukkan bahwa larangan isbal hanya pada tiga jenis pakaian: kain sarung (izaar), gamis dan imamah. Dan isbal pada celana pantalon tidak termasuk dalam larangan. Ini adalah klaim yang tertolak oleh hadist itu sendiri. Karena justru makna hadits ini adalah meniadakan anggapan bahwa larangan isbal itu hanya pada kain (izaar). Bahkan larangannya berlaku pada semua jenis pakaian, baik yang ada di zaman Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam (seperti gamis, imamah dan sirwal), atau pakaian pada masa yang lain, seperti celana pantalon di zaman kita”. Beliau lalu memaparkan alasannya, secara ringkas sebagai berikut:
Alasan 1
Dalam Lisaanul Arab dijelaskan makna izaar:
الإزار : كل من واراكَ وسَتَرَكَ . وتعني أيضا : الملحفة
Izaar adalah apa saja yang menutupimu, termasuk juga selimut”
Alasan 2
Dalam sebagian hadits digunakan lafadz tsaub (الثوب), sedangkan dalam Lisaanul Arab makna tsaub:
الثوب : من ثَوَبَ ويعني: اللباس .
“Tsaub, dari tsawaba, artinya pakaian”
Sehingga tsaub ini mencakup seluruh jenis pakaian
Alasan 3
Penjelasan para ulama:
Ibnu Hajar Al Asqalani menjelaskan:
وَقَالَ الطَّبَرِيُّ : إِنَّمَا وَرَدَ الْخَبَر بِلَفْظِ الْإِزَار لِأَنَّ أَكْثَر النَّاس فِي عَهْده كَانُوا يَلْبَسُونَ الْإِزَار وَالْأَرْدِيَة ، فَلَمَّا لَبِسَ النَّاس الْقَمِيص وَالدَّرَارِيع كَانَ حُكْمهَا حُكْم الْإِزَار فِي النَّهْي . قَالَ اِبْن بَطَّال : هَذَا قِيَاس صَحِيح لَوْ لَمْ يَأْتِ النَّصّ بِالثَّوْبِ ، فَإِنَّهُ يَشْمَل جَمِيع ذَلِكَ ، وَفِي تَصْوِير جَرّ الْعِمَامَة نَظَر ، إِلَّا أَنْ يَكُون الْمُرَاد مَا جَرَتْ بِهِ عَادَة الْعَرَب مِنْ إِرْخَاء الْعَذْبَات ، فَمَهْمَا زَادَ عَلَى الْعَادَة فِي ذَلِكَ كَانَ مِنْ الْإِسْبَال
“At Thabari berkata, lafadz-lafadz hadits menggunakan kata izaar karena kebanyakan manusia di masa itu mereka memakai izaar [seperti pakaian bawahan untuk kain ihram] dan rida’ [seperti pakaian atasan untuk kain ihram]. Ketika orang-orang mulai memakai gamis dan jubah, maka hukumnya sama seperti larangan pada sarung. Ibnu Bathal berkata, ini adalah qiyas atau analog yang tepat, andai  tidak ada nash yang menggunakan kata tsaub. Karena tsaub itu sudah mencakup semua jenis pakaian [sehingga kita tidak perlu berdalil dengan qiyas, ed]. Sedangkan adanya isbal pada imamah adalah suatu hal yang tidak bisa kita bayangkan kecuali dengan mengingat kebiasaan orang Arab yang menjulurkan ujung sorbannya. Sehingga pengertian isbal dalam hal ini adalah ujung sorban yang kelewat panjang melebihi umumnya panjang ujung sorban yang dibiasa dipakai di masyarakat setempat” (Fathul Baari, 16/331)
Penulis Syarh Sunan Abi Daud (9/126)  berkata:
فِي هَذَا الْحَدِيث دَلَالَة عَلَى عَدَم اِخْتِصَاص الْإِسْبَال بِالْإِزَارِ بَلْ يَكُون فِي الْقَمِيص وَالْعِمَامَة كَمَا فِي الْحَدِيث .قَالَ اِبْن رَسْلَان : وَالطَّيْلَسَان وَالرِّدَاء وَالشَّمْلَة
“Hadits ini merupakan dalil bahwa isbal tidak khusus pada kain sarung saja, bahkan juga pada gamis dan imamah sebagaimana dalam hadits. Ibnu Ruslan berkata, juga pada thailasan [kain sorban yang disampirkan di pundak], rida’ dan syamlah [kain yang dipakai untuk menutupi bagian atas badan dan dipakai dengan cara berkemul]”
Al’Aini dalam ‘Umdatul Qari (31/429) menuturkan:
قوله من جر ثوبه يدخل فيه الإزار والرداء والقميص والسراويل والجبة والقباء وغير ذلك مما يسمى ثوبا بل ورد في الحديث دخول العمامة في ذلك …
“Perkataan Nabi ‘barangsiapa menjulurkan pakaiannya‘ ini mencakup kain sarung, rida’, gamis, sirwal, jubah, qubba’, dan jenis pakaian lain yang masih disebut sebagai pakaian. Bahkan terdapat riwayat yang memasukan imamah dalam hal ini”
Sumber: http://almenhaj.net/makal.php?linkid=7415
Syubhat 4: Isbal khan cuma makruh! Jadi tidak mengapa setiap hari saya isbal
Terlepas dari perselisihan para ulama tentang hukum isbal antara haram dan makruh, perkataan ini sejatinya menggambarkan betapa dangkalnya sifat wara’ yang dimiliki. Karena seorang mu’min yang sejati adalah yang takut dan khawatir dirinya terjerumus dalam dosa sehingga ia meninggalkan hal-hal yang jelas haramnya, yang masih ragu halal-haramnya, atau yang mendekati tingkatan haram, inilah sikap wara’. Bukan sebaliknya, malah membiasakan diri dan terus-menerus melakukan hal yang mendekati keharaman atau yang makruh. Bukankah Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
الحَلاَلُ بَيِّنٌ، وَالحَرَامُ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ لاَ يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى المُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ: كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الحِمَى، يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ
Yang halal itu jelas, yang haram itu jelas. Diantaranya ada yang syubhat, yang tidak diketahui hukumnya oleh kebanyakan manusia. Barangsiapa menjauhi yang syubhat, ia telah menjaga kehormatan dan agamanya. Barangsiapa mendekati yang syubhat, sebagaimana pengembala di perbatasan. Hampir-hampir saja ia melewatinya” (HR. Bukhari 52, Muslim 1599)
Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam juga bersabda:
إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي من ابْن آدم مجرى الدم
Sesungguhnya setan ikut mengalir dalam darah manusia” (HR. Bukhari 7171, Muslim 2174)
Al Khathabi menjelaskan hadits ini:
وَفِي هَذَا الْحَدِيثِ مِنَ الْعِلْمِ اسْتِحْبَابُ أَنْ يَحْذَرَ الإِنْسَانُ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ مِنَ الْمَكْرُوهِ مِمَّا تَجْرِي بِهِ الظُّنُونُ وَيَخْطُرُ بِالْقُلُوبِ وَأَنْ يَطْلُبَ السَّلامَةَ مِنَ النَّاسِ بِإِظْهَارِ الْبَرَاءَةِ مِنَ الرِّيَبِ
“Dalam hadits ini ada ilmu tentang dianjurkannya setiap manusia untuk menjauhi setiap hal yang makruh dan berbagai hal yang menyebabkan orang lain punya sangkaan dan praduga yang tidak tidak. Dan anjuran untuk mencari tindakan yang selamat dari prasangka yang tidak tidak dari orang lain dengan menampakkan perbuatan yang bebas dari hal hal yang mencurigakan” (Talbis Iblis, 1/33)
Lebih lagi, jika para da’i, aktifis dakwah, dan pengajar ilmu agama gemar membiasakan diri melakukan hal yang makruh. Padahal mereka panutan masyarakat dan orang yang dianggap baik agamanya. Sejatinya, semakin bagus keislaman seseorang, dia akan semakin wara’. Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:
فَضْلُ الْعِلْمِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ، وَخَيْرُ دِينِكُمُ الْوَرَعُ
Keutamaan dalam ilmu lebih disukai daripada keutamaan dalam ibadah. Dan keislaman kalian yang paling baik adalah sifat wara’” (HR. Al Hakim 314, Al Bazzar 2969, Ath Thabrani dalam Al Ausath 3960. Dishahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib 1740)
Umar bin Khattab Radhiallahu’anhu berkata:
«إِنَّ الدِّينَ لَيْسَ بِالطَّنْطَنَةِ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ وَلَكِنَّ الدِّينَ الْوَرَعُ»
Agama Islam itu bukanlah sekedar dengungan di akhir malam, namun Islam itu adalah bersikap wara’” (HR Ahmad dalam Az Zuhd, 664)
Para penuntut ilmu agama, ustadz, kyai, atau ulama yang paham agama secara mendalam, semestinya lebih wara’ bukan malah asyik-masyuk mengamalkan yang makruh-makruh. Al Hasan Al Bashri berkata:
«أَفْضَلُ الْعِلْمِ الْوَرَعُ وَالتَّوَكُّلُ»
Ilmu yang paling utama adalah wara’ dan tawakal” (HR. Ahmad dalam Az Zuhd, 1500)
Yahya bin Abi Katsir berkata:
«الْعَالِمُ مَنْ خَشِيَ اللَّهَ , وَخَشْيَةُ اللَّهِ الْوَرَعُ»
Orang alim adalah orang yang takut kepada Allah. Takut kepada Allah itulah wara’” (Akhlaqul ‘Ulama, 1/70)
Berangkat dari sikap wara’ inilah maka para fuqaha yang berpendapat isbal itu makruh hendaknya tidak isbal kecuali ada kebutuhan, semisal karena hanya memiliki 1 pakaian, karena sakit atau karena ada udzur lain.
Demikian sedikit yang bisa kami paparkan. Semoga bermanfaat.

Penulis: Yulian Purnama
Sumber Artikel Muslim.Or.Id



KENAPA SAYA MEMILIH DAKWAH SALAF??




.Berikut kami tampilkan posting dari sahabat yang lainnya, silakan menyimak

KENAPA SAYA MEMILIH DAKWAH SALAF??
























Bismillah segala puji hanya milik ALLAH yang sampai saat ini masih memberikan kita nikmat Iman, Islam, sehat, nikmat dalam menjalankan sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Shalawat dan salam kita curahkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya dan para sahabatya.

Judul pada note kali ini “KENAPA SAYA MEMILIH DAKWAH SALAF?” itulah gambaran yang pas atau sesuai yang menggambarkan betapa bahagianya ana bisa mengenal dakwah ini. Mungkin sebagian orang masih asing dengan kata shalafush shalih, salaf, salafi dan as-Salafiyyun, bahkan diantara orang yang sudah mengetahui kata-kata tersebut masih salah kaprah atau salah mengartikan kata-kata tersebut, sehingga rancu untuk diterjemahkannya atau salah dalam mengartikannya. Tapi saya tidak ingin membahasnya terlalu lebar, karena ada buku yang sudah membahasnya insyaALLAH ana akan memberikan refrensinya sebagai rujukan untuk dipahami, InsyaALLAH.

Beralih ke pengalaman ana dalam mengenal dakwah islam, pada awalnya ana hanya seorang awam mungkin sampai saat ini juga masih awam dan butuh banyak belajar, sepengalaman ana yang masih berumur 20 th terkadang emosi sedang membara, semangat sedang berkoar-koar, berpikiran idealis, ingin tampil jadi yang terbaik ya itulah sedikit gambaran tentang anak muda.

Ana sangat mengalami betul ketika jauh dari ilmu agama, malah saking jahil/bodoh ana menganggap semua agama itu baik, tidak mengetahui apa itu tauhid, syirik, sunnah, bid’ah dan lain-lain dalam perkara agama, emank benar hidup dalam kebodohan sangat tidak enak, gampang diajak kesana kemari. Jujur ana pernah ikut khurujnya jamaah tabligh, ana menganggap wah kelompok ini benar dengan memakai jubah atau gamis, berjenggot, khusyuk dalam ibadah dan zikir seolah-olah ini lah jalan yang selamat, jalan yang lurus, jalan yang dijanjikan surga tapi ternyata mereka adala thoreqot sufi yang identik disebut dengan sufiyah gaya baru, wal iyaadhu billah, apa jadinya ana kalau tidak diberi petunjuk oleh ALLAH, mungkin ana sudah sesat seumur hidup.

Ya sekali lagi hidup dalam kebodohan dalam memahami agama sangat tidak enak hanya memandang dari luarnya saja tanpa mau mengkaji ilmunya, sangat disayangkan apabila anak muda dizaman sekarang ini hanya menggunakana hawa nafsunya saja dalam menjalankan Islam, tetapi tidak tahu dalil yang diterima shahih atau tidak. Ana akan kasih contoh sedikit, ketika itu ana sekolah dan setiap pelajaran agama Islam pasti ada praktek wudhu atau shalat, ketika ana praktikan wudhu dan shalat sesuai dengan buku yang ana punya dahulu memang tidak ada perbedaan pendapat dengan guru agama di sekolah, dan gurunya pun tidak menegur kalau ini salah atau betul dan yang sangat membuat diri ana malu pada saat ini, kenapa ana tidak tanyakan kepada guru tersebut “pak dalilnya apa kalau kita harus berwudhu dan shalat dengan gerakan semacam ini?” itulah yang membuat ana menyesal sampai saat ini, betapa bodohnya dan malasnya dalam menuntut ilmu dien.

Sampai akhirnya ana mengetahui dalil-dalinya dalam berwudhu dan shalat dan ternyata sangat bertolak dengan yang ana praktekan ketika sekolah dahulu.hmmmm nasi sudah menjadi bubur, bukan berarti ana patah semangat, justru harus semangat untuk mengetahui agama yang haq itu seperti apa. Oke kita beralih ke pengalaman berikutnya, mungkin sebahagian antum sudah tahu yang namanya NII(Negara Islam Indonesia) ya ana hampir pernah kejebak dengan kelompok sesat ini, gak kebayang bisa kenal sama kelompok kaya gini, bawain dalil Al-Quran sepotong-potong tanpa membawakan dalil lainya untuk memperkuat. Untung saja ana tidak masuk dalam kelompok ini, kejadian ini ketika ana baru lulus SMA. Memank kelompok ini mencari anak-anak muda yang tidak memiliki pemahaman agama dan ketika itu ana masuk dalam kategori incaran mereka.

Ketika membeli buku dan mendapatkan buku dari orang, ana tidak tahu apakah penerbit ini adalah penerbit yang haq, mengajarkan sesuai dengan tuntunan Rasulullah yang shahih, ketika itu ana masih anak muda yang bodoh, asal beli saja. Dan ketika ana sudah mengenal dakwah yang haq baru ana tahu bahwa buku yang pernah dibeli dahulu adalah bukunya orang-orang JIL(jaringan Islam Liberal), rasanya lagi-lagi hidup dalam kebodohan tidak ada enaknya sama sekali, tapi untungnya bukunya udah ana robek-robek. Lagipula kalau kita baca buku mereka, susah sekali untuk dipahami ilmu yang gak bermanfaat deh pokoknya, jadi ana robek2 aja.

Kemudian mulailah ana masuk Kuliah, disini lah mulai jalan terbuka untuk ana yang ingin mendalami Islam dengan adanya liqo di kampus dan merupakan syarat wajib bagi mahasiswa baru ketika itu. Ternyata emank asik kumpul dalam satu liqo untuk sharing dalam agama, jadi tidak ada perbedaan antara orang yang berilmu dengan yang tidak, istilah kerenya sih bebas dalam mengutarakan pendapat yah karena yang dibahas juga bersifat umum bukan bersifat khusus atau bukan membahas yang bersifat ilmu, ada pun yang bersifat khusus itu sangat sedikit sekali yang membahas masalah ilmu, yang ada kebanyakan politik, ekonomi, film Islami ,perkembangan masyarakat sekarang ini bagaimandll ibaratnya tidak lebih dari berita koran. Awalnya ana sendiri tidak ada curiga, karena ana sendiri masih jahil, tidak tahu sebenarnya kelompok ini kelompok apa???!!! Apakah kelompok yang sesuai sunnah atau tidak, yang ana lihat kakak mentornya Isbal(menjulurkan celana melebihi mata kaki), jenggotnya dicukur, yah ketika itu ana belum tahu sama sekali apa hukumnya isbal dan jenggot.

Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan untuk memelihara jenggot, membiarkannya tumbuh dan menyuburkannya serta memotong kumis dan memendekkannya. Yang seharusnya adalah mentaatinya dan mengagungkan perintah dan larangannya dalam segala perkara. Abu Muhammad Ibnu Hazm menyebutkan, bahwa para ulama telah sepakat bahwa memelihara jenggot dan memotong kumis termasuk perkara yang diperintahkan. Adalah kebinasaan dan kerugian serta akibat yang buruk bagi yang bermaksiat terhadap Allah dan RasulNya. Begitu pula meninggikan pakaian hingga di atas mata kaki, merupakan perkara yang diperintahkan, berdasarkan sabda nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot memanjang, selisihilah orang-orang Majusi” [Shahih Muslim, kitab Ath-Thaharah (260)]

“Artinya : Bagian yang melebihi mata kaki yang tertutup pakaian, maka termpatnya di neraka” [Hadits Riwayat Al-Bukahri dalam Shahihnya, kitab Al-Libas 5787]
.

Lagi-lagi ana terjebak dalam kebodohan dan lembah hitam. Dikira ini baik tahu-tahunya bukan, sampai serba salah jadinya. Alhamdulillah Allah tidak mematahkan semangat ana untuk mencari yang haq(kebenaran). Ana ingin bilang kalau hidayah itu benar-benar mahal sekali bahkan uang bermilyaran atau triliyunan atau dunia dan seisinya tidak akan sanggup untuk mengalahkan kemewahan hidayah yang ALLAH kasih terhdap hambanya, tetapi perlu diingat bahwa hidayah tidak cukup hanya mengadahkan tangan saja tanpa mau belajar dan mencari ilmunya, ALLAH akan memberikan hidayah siapa yang Dia kehendaki dan ALLAH akan menyesatkan siapa yang DIA kehendaki pula, tapi perlu diingat ALLAH itu tidak dzhalim terhadap hambanya. Dengan kita mengkaji ilmu insyaALLAH hidayah itu datang atas izin ALLAH dan mendapatkan hidayah itu tidak mudah apalagi mempertahankan hidayah itu sendiri, butuh perjuangan, letihnya badan, letihnya pikiran. Wah gak nyangka ana bisa berbagi pengalaman dengan antum semua, hmmm mudah-mudahan tidak bosan atau jenuh dengan ana.he… mungkin terlalu serius y bahasanya??!!tapi tenang aja, InsyaALLAH ana bisa diajak bercanda koq.he…mungkin mata agak sedikit lelah karena membaca note yang tulisannya kecil-kecil, boleh koq sambil diminum tehnya atau kopinya atau air mineral juga gak apa-apa, kalau bisa sih minum madu biar lebih fresh.he…oke kita lanjutkan ceritanya!!! Ana akan membawakan dengan sedikit gaya bahasa yang lebih fresh, lebih enyak dan tidak terlalu serius.he….karena kebanyakan orang sukanya yang unik tidak monoton apalagi serius banget, malah yang paling parah bisa bikin tidur karena bahasanya menggunakan istilah semua biar keliatan pinternya.he…tenang aja ana gak suka menggunakan istilah-istialah yang berada di luar nalar atau akal sehat koq(loh kaya orang ga waras aja)siiip deh…mudah-mudahan masih semangat.

Setelah ana mengetahui bahwa liqo yang diadakan kampus adalah IM(ikhwanul Muslimin), awalnya ketika mengetahui nama tersebut masih asing ditelinga, memank sih namanya berbau islam. Tapi jujur ketika itu ana sendiri tidak tahu apa tujuan kelompok ini. Walah lagi-lagi ana ini bodoh, mau belajar agama tetapi tidak tahu ilmunya bahasa gaulnya sih Taqlid(tukang ikut-ikutan tanpa cari dalil). Sampai kemudian ana mulai mempelajari sejarahnya siapa kelompok ini dan apa tujuannya. Mulailah ada teman yang membuka jalan ana untuk mengenali dakwah salaf, sebenarnya lucu sih ceritanya ketika bertemu pertama kali(udah kaya cerita sinetron aja ye…) ketika itu dia merupakan satu-satunya ikhwan yang celananya gantung di kelas, sempat ana bilang dalam hati “masih ada y orang kaya gitu pake celana”,kalau diinget-inget lucu banget malah ujung-ujungnya ana tahu dakwah salaf dari dia, afwan ya namanya gak ana kasih tahu soalnya ana blum minta izin untuk namanya dicantumin dalam note, takutnya kalau ada nama dia, entar dia minta royalty.he…gak koq Cuma becanda aja. Nah orang ini lah yang sampai sekarang menjadi sahabat akrab ana dalam menuntut ilmu yang menjadikan kami thulabul ilmy, gak kebayang nikmatnya menuntut ilmu bareng-bareng, itikaf bareng di masjid hanya untuk ikut kajian akbar, rela pergi jauh2 untuk nuntut ilmu padahal bekal pas-pasan, makan seadanya ,bau badan yang menyengat, rela digigitin nyamuk yang ganas-ganas, tetapi semua itu nikmat karena ilmu yang kami peroleh, duduk paling depan ketika kajian, wah pokonya enak banget deh, ana sendiri aja belum pernah senikmat ini dalam hidup. Oh y awalnya ana mengenal dakwah salaf masih setengah niat, diajak kajian ketika itu masih ogah-ogahan karena perbedaan dengan firqoh2 lain yang pernah ana ikuti, berbeda sekali jadi sedikit butuh waktu untuk menyesuaikannya. Waktulah yang akhirnya berbicara yang membuat ana Alhamdulillah sampai saat ini semangat dalam mengamalkan manhaj salaf ini. Semoga kita semua bisa ya!!!!amin…

Oke kalau tadi sedikit pengalaman ana mengarungi firqoh-firqoh karena kejahilan diri pribadi sendiri, kini ana akan coba menjabarkan pint-point penting “KENAPA SAYA MEMILIH DAKWAH SALAF?” loh belum inti toh(he…maap ya kali ini benar-benar panjang notenya, kayaknya harus begadang deh).

1] PENGERTIAN ‘AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH


A.Definisi Aqidah



Menurut bahasa, ‘aqidah berasal dari kata al-‘aqdu yang berarti ikatan, at-tautsiiqu yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquwwah yang artinya mengikat dengan kuat menurut istilah, ‘aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi yang meyakininya.

Sedangkan ‘Aqidah Islamiyah adalah keimanan yang teguh dan pasti kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan seluruh kewajiban, bertauhid(tauhid rububiyyah, uluhiyah, dan Asma’ wash shifat Allah), dan taat kepada-NYA, beriman kepada malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari akhir, takdir yang baik maupun buruk dan mengimani seluruh prinsip-prinsip agama.

B. Denisi Salaf

.

Menurut bahasa, Salaf artinya orang yang terdahulu(nenek moyang), yang lebih tua dan lebih utama . Salaf berarti para pendahulu. Menurut istilah, Salaf berarti generasi pertama dan terbaik dari ummat Islam yang terdiri dari para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, dan para imam pembawa petunjuk pada tiga kurun (generasi/massa) yang pertama dimuliakan oleh Allah Ta’ala, mana dalilnya???.

sebagai mana sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

“Sebaik-baik masa adalah pada masaku ini(yaitu masa para Sahabat), kemudian yang setelahnya(masa Tabi’in), kemudian yang setelahnya(masa Tabi’ut Tabi’in).”[Shahih: HR.Al-Bukhari(no.2652)] .

Ahlus Sunnah wal Jamaah dikatakan juga as-Salafiyyun karena mereka mengikuti manhaj salafush shalih dari para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in. kemudian setiap orang yang mengikuti jejak mereka serta berjalan berdasarkan manhaj mereka –di sepanjang masa, -mereka ini disebut Salafi karena dinisbatkan kepada Salaf. Salaf bukan kelompok atau golongan seperti yang dipahami kebanyakn orang, tetapi sebagai manhaj(jalan hidup dalam ber–‘Aqidah, beribadah, berhukum, berakhlak dll) yang wajib diikuti setiap muslim. Jadi pengertian Salaf dinisbatkan kepada orang yang menjaga keselamatan ‘aqidah dan manhaj menurut apa yang dilaksanakan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallaahu ‘anhum sebelum terjadi perpecahan dan perselisihan.

B. Denisi Ahlus Sunnah wal Jama’ah

.
As-Sunnah menurut bahasa adalah jalan atau cara, baik jalan itu terpuji maupun tercela.
Menurut istilah ulama ‘aqidah, As-Sunnah adalah petunjuk yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallaahu ‘anhum baik dalam ilmu, I’tiqad(keyakinan), perkataan maupun perbuatan. Dan Ini adalah As-Sunnah yang wajib diikuti, orang yang mengikuti akan dipuji dan orang yang menyalahi akan dicela.

Al-Jama’ah menurut ulama ‘aqidah adalah generasi pertama dari ummat ini, yaitu generasi Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, serta orang-orang yang mengikuti dalam kebaikan hingga hari kiamat, karena berkumpul di atas kebenaran. disebut Al-Jama’ah, kerena bersatu di atas kebenaran, tidak mau berpecah-belah dalam urusan agama, berkumpul di bawah kpemimpinan para imam(yang berpegang kepada) al-haqq(kebenaran), tidak mau keluar dari jama’ah mereka dan mengikuti apa yang menjadi kesepakatan Salaful Ummah5 .

Jadi Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah orang yang mempunyai sifat dan karakter mengikuti Sunnah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi perkara-perkara baru dalam agama.
Mereka disebut juga Ahlul Hadits, Ahlul Atsar, Ahlul-Ittiba’, ath-Thaa-ifattul Manshuurah(golongan yang mendapatkan pertolongan Allah), al-Firqatun Naajiyah(golongan yang selamat), dan al-Ghurabaa’(orang asing).

SEJARAH MUNCULNYA ISTILAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

.
Istilah Ahlus sunnah wal jama’ah ini telah ada sejak generasi pertama ummat Islam pada kurun yang dimuliakan Allah, yaitu generasi Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, ada gak dalilnya??

Ada koq coba deh simak!!!!

“PADA HARI YANG DI WAKTU ITU ADA MUKA YANG PUTIH BERSERI, DAN ADA PULA MUKA YANG HITAM MURAM…..’”(QS. ALI’IMRAN:106)
Abdullah bin ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma berkata “yakni pada hari kiamat, ketika menjadi putih wajah-wajah Ahlus Sunnah wal Jamaah. dan menjadi hitam wajah-wajah ahlul bid’ah dan perpecahan .

Ayyub as-Shiktiyani rahimahullaah, ia berkata,”Apabila aku dikabarkan tentang meninggalanya seorang ahlus sunnah seolah-olah hilang satu anggota tubuhku.”
Sufyan ats-Tsauri rahimahullaah berkata,”Aku wasiatkan kalian tetap berpegang kepada ahlus Sunnah dengan baik, karena mereka adalah al-ghurabaa’(orang asing). Alangkah sedikitnya Ahlus sunnah wal jama’ah.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahulaah. Berkata dalam muqaddimah kitabnya, As-Sunnah,”inilah madzhab ahlul ‘ilmi, ash-haabul atsar dan Ahlus Sunnah, yang mereka dikenal sebagai pengikut Sunnah Rasul Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat radhiyallaahu ‘anhum hingga pada masa sekarang ini…”

2]KARAKTERISTIK DAN KEISTIMEWAAN ‘AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

.

1. Sumbernya otentik
2. Berpegang teguh kepada prinsip berserah diri kepada ALLAH dan kepada Rasul-Nya Shallallaahu ‘alaihi wa sallam
3. Sejalan dengan fitrah yang suci dan akal sehat.
4. Mata rantai sanadnya sampai kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, para Sahabatnya, para Tabi’in, serta para imam yang mendapatkan petunjuk.
5. Jelas dan gamblang
6. Bebas dari Kerancuan, kontradiksi, dan kesamaran.
7. ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah merupakan faktor utama bagi kemenangan dan kebahagian abadi di dunia dan akhirat.
8. ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah ‘Aqidah yang dapat mempersatukan ummat
9. Tetap utuh, kokoh, dan langgeng sepanjang masa.
10. Allah menjamin orang yang menetapi ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan kehidupan yang mulia.

Itulah beberapa point kenapa saya memilih manhaj Salaf. Sebenarnya note ini merupakan note2 sebelumnya yang berjudul “Mulia dengan Sunnah”. Pasti banyak orang yang bertanya-tanya seperti ini “loh kan kelompok-kelompok lain mengaku ahlus sunnah wal jamaah!!!apa bedanya sama ahlus sunnah lainnya??” yah anggapan tersebut sering ana jumpai, yang mengaku kelompok mereka merupakan ahlus sunnah wal jamaah, berkali-kali ana ingin bilang kalau orang bodoh dalam agama pasti mereka tidak bisa membedakan mana yang disebut ahlus sunnah wal jamaah mana yang bukan(hanya menyebut diri sebagai ahlus sunnah pada hakikatnya bukan sama sekali). Yah itu lah hidup dalam kebodohan sangat merugi, seperti yang sudah ana katakan di atas, dikiranya ini baik tahu-tahunya bukan, dikiranya ini sunnah tahu-tahunya bid’ah. Ilmu lah yang akan menjawab semua kebodohan, mustahil seseorang ingin mengetahui mana tauhid, mana syirik,mana sunnah,mana bid’ah tanpa mencari ilmunya. Cuma hanya menunggu dan menunggu, tidak akan bisa, ilmu itu wajib kita cari. Terkadang banyak juga masyarakat yang lebih senang terima blak-blakan omongan ust nya ”loh kan kata ust saya berkata seperti ini,pasti benar lah,wong namanya ust” ini juga salah kaprah dalam masyarakat, jangan menganggap ust itu sebagai orang yang terbebas dari kesalahan. Mana ada manusia yang tidak luput dari kesalahan dan dosa. Gimana?masih mau menjadi orang bodoh?ana akan kasih beberapa contoh lainnya yang InsyaAllah bisa menjadi renungan untuk kita semua.

Banyak orang-orang yang sudah bergelar prof,doktor, dll tetapi tidak tahu Tauhid, tidak Tahu Sunnah, Tidak tahu syirik, Tidak Tahu bid’ah. Ini sama saja gelar mereka tidak ada apa-apanya, sama saja mereka dengan orang-orang awam, karena apa? Mempelajari ilmu dien(agama) itu wajib bagi setiap muslim dan tidak ada penghalangnya, sedangkan mempelajari ilmu dunia, seperti kedokteran, komputer, pertanian dll merupakan fardu kifayah yaitu gugur kewajibannya apabila yang lain sudah mengamalkannya atau mengerjakannya. Jadi jangan kita anggap karena seorang prof, DR dengan seenak-enaknya tidak belajar agama. Malah saya katakan, misal ada dua orang yang pertama dia tidak ahli ilmu kedunian, tetapi tahu hak-hak ALLAH sedangkan yang kedua merupakan orang terkenal dengan gelar PROFESORnya tetapi tidak tahu Tauhid, bagaimana wudhu dan shalat yang benar, saya akan katakan orang yang pintar adalah orang yang pertama meskipun tidak memiliki gelar apa pun. Jadi intinya kita jangan melihat orang dari jabatan Dunianya saja, tapi lihat agama seseorang.

“Ketauhilah ilmu Syar’I adalah cahaya Allah, dan cahaya Allah tidak akan diberikan oleh orang-orang yang berbuat dosa dan maksiat” oleh al ilmam ibnu qayim.

Jadi orang yang dikatakan berilmu adalah orang-orang yang mengetahui hak-hak ALLAH. Timbul lah pertanyaan di dalam diri kita, sudahkah kita mengetahui hak-hak Allah?sudahkah kita mengamalkan apa yang diajarkan Rasulullah?.

Ketika masa-masa jahil dahulu sangat berat sekali langkah kaki ini untuk menuntut ilmu, mengeluarkan tenaga, pikiran bahkan untuk membeli kitab saja enggan Rasanya. Benarlah bahwa ilmu itu adalah cahaya dan cahaya itu tidak akan diberikan kepada orang-orang yang berbuat dosa dan maksiat. Apakah kita tidak ingin mendapatkan cahaya Allah?apakah kita tidak menginginkan perjumpaan dengan Allah kelak?. Ya pelajari ilmu yang shahih apa yang dibawakan oleh Rasulullah dan yang diajarkan oleh para Sahabat. Banyak ketika kita tanyakan kepada anak muda untuk menyuruhnya menuntut ilmu, dengan pasrah mereka mengatakan “ya saya seperti ini karena udah kebiasaan teman-teman,sulit rasanya bepisah” apa ini perkataan yang baik dan pantas yang keluar dari bibir kita?mana yang lebih engkau Takutkan adzhab Allah atau sekedar teman yang jahil(bodoh) dalam agama. Kalau saya bilang sebenarnya mereka sadar, tetapi mereka lebih takut untuk kehilangan teman daripada hidayah Allah. Beruntunglah orang-orang yang telah mendapatkan hidayah dan petunjuk Allah.

Duduk dengan orang-orang yang baik dan shalih yang dipercaya dalam keilmuan mereka atau amanat mereka, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Permisalan teman duduk yang baik dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi, penjual minyak wangi tidak akan melukaimu, mungkin engkau membelinya atau engkau mendapatkan baunya. Sedangkan pandai besi akan membakar badanmu atau pakaianmu, atau engkau akan mendapatkan bau yang tidak sedap”. [Hadits riwayat Bukhari]

Maka wajib bagimu wahai pemuda, untuk berteman dengan orang-orang yang sudah dikenal berakhlak baik dan menjauh dari akhlak yang jelek dan perbuatan yang hina, hingga engkau mengambil dari teman itu "madrasah" darinya engkau mendapatkan pertolongan untuk berakhlak baik.

Hendaknya seseorang memperhatikan apa yang diakibatkan oleh akhlak yang buruk, karena akhlak yang buruk dibenci, dan buruk akhlak itu dijauhi, dan buruk akhlak itu disifati dengan sifat yangjelek.

Maka jika seseorang mengetahui bahwa berakhlak buruk itu mengantarkan kepada hal ini, maka hendaknya ia menjauhinya.

Itulah alasannya ana meninggalkan teman-teman yang jauh dari agama, ana tidak ingin larut dalam kebodohan, hobinya hanya kumpul-kumpul, bermain musik, mendengarkan nyanyian. Benar-benar terasa mati hati ini ketika dibacakan firman Allah. Jadi apakah masih mau berteman dengan orang-orang yang jauh dari agama?silahkan dijawab sendiri!!!

sedikit point tambahan kenapa saya memilih manhaj salaf, terkadang saya mengamati kajian-kajian yang ada di TV koq Hijab(pembatas) antara ikhwan dan akhwatnya terbuka lebar, artinya si ikhwan dan akhwat dengan jelas bisa melihat atau berpandang-pandangan. Sedangkan terkadang ust nya sendiri suka bilang “jagalah hati jangan kau kotori” mungkin antum semua sudah tahu kata-kata tersebut, bagaimana mungkin kita bisa menjaga hati kalau mata ini saja masih bergerak bebas untuk melihat wanita yang jelas-jelas hijabnya tidak sempurna. Dan yang lebih saya sayangkan ust-ust nya ketika membawakan ceramah hampir tidak pernah membawa kitab, ceramah hanya dengan mik saja. Kalau yang dia ceramahkan ketika membawakan hadits dan periwayatannya salah bagaimana?.

Saya teringat cerita imam-imam terdahulu yang hafal ribuan hadits tetapai mereka para imam tetap membawakan kitab untuk diajarkan kepada murid-muridnya, karena kehati-hatiannya. masyaAllah sungguh ana takjub dan bangga bisa mengenal dakwah Salaf, karena setiap ana kajian yang dibahas pasti dengan membawakan kitab. Sehingga yang kami dapatkan adalah ilmu bukan omongan ust nya tetapi ilmu yang telah Rasulullah Ajarkan dan ust hanya sebagai perantara dalam menyampaikannya.wallahu a’lam(semoga mengerti maksud saya).

Dan berikutnya yang ana amati ada sebagian ust di TV yang bermain film komedi, apa gak aneh jadinya??!!! Mestinya sosok ust yang menjadi panutan masyarakat islam dalam memberikan materi dakwah, tapi ini malah menjadi pemain komedi, kita tahu bahwa komedi itu sendiri banyak dustanya.hmmmm kalau kita tidak pintar-pintar memilih ust akan menjadi bumerang buat diri kita sendiri. Saya ingin bertanya apakah sebagian kita sudah mengetahui bahwa alat-alat musik dan nyanyian dalam islam itu haram(dilarang)?pernahkah kita melihat sebagian ust yang berdakwah menggunakan musik sebagai sarana dakwah? Ya itulah fenomena yang terjadi di kalangan masyarakat, apa ini yang disebut ust yang mengetahui sunnah Nabi?! Padahal jelas dalam islam musik itu haram, apa dalilnya ?
Sesungguhnya mendengarkan nyanyian atau lagu hukumnya haram dan merupakan perbuatan mungkar yang dapat menimbulkan penyakit, kekerasan hati dan dapat membuat kita lalai dari mengingat Allah serta lalai melaksanakan shalat. Kebanyakan ulama menafsirkan kata lahwal hadits (ucapan yang tidak berguna) dalam firman Allah dengan nyanyian atau lagu.

“Artinya : Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan ucapan yang tidak berguna” [Luqman:6]

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu bersumpah bahwa yang dimaksud dengan kata lahwul hadits adalah nyanyian atau lagu. Jika lagu tersebut diiringi oleh musik rebab, kecapi, biola, serta gendang, maka kadar keharamannya semakin bertambah. Sebagian ulama bersepakat bahwa nyanyian yang diiringi oleh alat musik hukumnya adalah haram, maka wajib untuk dijauhi. Dalam sebuah hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau berpendapat.

“Artinya : Sesungguhnya akan ada segolongan orang dari kaumku yang menghalalkan zina, kain sutera, khamr, dan alat musik” [Al-Bukhari].

Bagaimana mungkin dakwah dengan nyanyian, sungguh aneh dan bodoh, terasa sekali tidak ada ilmunya. Yang dikatakn ilmu adalah perkataan ALLAH, perkataan Rasulullah dan perkataan para sahabat itu baru ilmu, bukan dengan nyanyian, orang bisa saja mabuk sambil bernyanyi. Saya pernah diberitahu bahwa ada ust yang gencar mendakwahkan lewat dangdut(sebahagian dari kita sudah mengetahui), banyak sekali masyarakat yang kagum dan menggemari musiknya tetapi yang anehnya ada orang mabuk sambil joged dengan nyanyiannya. Lucu kan jadinya, mau berdakwah, tetapi tidak ada ilmunya, malah joged-joged. Y sudahlah emank lucu mau diapakan lagi, mudah-mudahan mereka mendapatkan hidayah dan petunjuk begitu pun dengan kita semoga senantiasa mendapatkan perlindungan oleh ALLAh.

Kalau ada UST yg menolak Dakwah Salaf, coba deh tanya ke UST nya langsung "Ust mau Surga gak?"psti jwabannya ya mau lah,"emank ust dijanjikan masuk Surga?"pasti jawabannya gak(Kalo ngaku ust nya dijanjiin masuk surga, lebih baik tinggalin majelisnya deh udah sesat tuh namanya!!!),"ust tau gak siapa yg pertama kali ditarbiyah oleh Rasulullah?",pasti jwabnnya para Sahabat donk,”ust tahu gak siapa orang yang pertama kali beriman setelah Rasulullah?"pasti jawabnya para sahabat adek yang manis,”ust tahu gak orang yang dijanjikan surga oleh Allah setelah Rasulullah?”jawabannya pasti para sahabat,”ust tahu orang yang berilmu setelah Rasulullah?”,jawabanya para sahabat naq,”ust tahu gak orang yang paling baik amalnya setelah Rasulullah?”,waduuh ya para sahabat dunk,” ust yang baik tahu gak siapa yang menemani Rasulullah dalam berjihad?”, waduh anak manis ya jawabannya para sahabat dunk, mereka kan gagah-gagah dan pemberani,”nah ust tahu gak kalau orang yang paling paham dengan ilmu yang dibawakan oleh Rasulullah?”,banyak nanya nih kaya quis aja, ya jawabannya para sahabat lah,”nah itu ust tahu,KENAPA UST MENOLAK DAKWAH SALAF?" bgung deh tu UST pastinya ,malah lbih pinter muridnya...kalau tuh ust masih ngeyel berarti ust nya sombong, merasa lebih pintar dari sahabat Rasulullah. Wallahu a’lam.

Rasanya saya cukupkan dahulu sampai sini, InsyaALLAH akan ada lanjutannya karena banyak sekali yang ingin dibahas. Oh ya apabila antum-antum semua punya pengalaman yang menarik dalam mengenal dakwah silahkan ya berbagi cerita dengan ana, ana akan sangat senang sekali. Jujur ana sangat bahagia bertemu dengan orang-orang yang telah mendapatkan hidayah Allah dan orang seperti itu telah banyak bercerita kepada ana, makanya ana berani untuk menulis note ini, yup udah malem nih, semoga semangat selalu y dan jangan bosan-bosan untuk menegur ana apabila ada kesalahan, ana akan terima dengan lapang dada. Oh ya untuk memperjelas mulia dengan manhaj salaf antum semua bisa baca kembali di note saya yang berjudul”mulia dengan sunnah” InsyaAllah pembahasannya jelas dan gamblang Barakallahu fyk. Wasalamu’alaykum….






















Bismillah segala puji hanya milik ALLAH yang sampai saat ini masih memberikan kita nikmat Iman, Islam, sehat, nikmat dalam menjalankan sunnah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam.
Shalawat dan salam kita curahkan kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya dan para sahabatya.

Judul pada note kali ini “KENAPA SAYA MEMILIH DAKWAH SALAF?” itulah gambaran yang pas atau sesuai yang menggambarkan betapa bahagianya ana bisa mengenal dakwah ini. Mungkin sebagian orang masih asing dengan kata shalafush shalih, salaf, salafi dan as-Salafiyyun, bahkan diantara orang yang sudah mengetahui kata-kata tersebut masih salah kaprah atau salah mengartikan kata-kata tersebut, sehingga rancu untuk diterjemahkannya atau salah dalam mengartikannya. Tapi saya tidak ingin membahasnya terlalu lebar, karena ada buku yang sudah membahasnya insyaALLAH ana akan memberikan refrensinya sebagai rujukan untuk dipahami, InsyaALLAH.

Beralih ke pengalaman ana dalam mengenal dakwah islam, pada awalnya ana hanya seorang awam mungkin sampai saat ini juga masih awam dan butuh banyak belajar, sepengalaman ana yang masih berumur 20 th terkadang emosi sedang membara, semangat sedang berkoar-koar, berpikiran idealis, ingin tampil jadi yang terbaik ya itulah sedikit gambaran tentang anak muda.

Ana sangat mengalami betul ketika jauh dari ilmu agama, malah saking jahil/bodoh ana menganggap semua agama itu baik, tidak mengetahui apa itu tauhid, syirik, sunnah, bid’ah dan lain-lain dalam perkara agama, emank benar hidup dalam kebodohan sangat tidak enak, gampang diajak kesana kemari. Jujur ana pernah ikut khurujnya jamaah tabligh, ana menganggap wah kelompok ini benar dengan memakai jubah atau gamis, berjenggot, khusyuk dalam ibadah dan zikir seolah-olah ini lah jalan yang selamat, jalan yang lurus, jalan yang dijanjikan surga tapi ternyata mereka adala thoreqot sufi yang identik disebut dengan sufiyah gaya baru, wal iyaadhu billah, apa jadinya ana kalau tidak diberi petunjuk oleh ALLAH, mungkin ana sudah sesat seumur hidup.

Ya sekali lagi hidup dalam kebodohan dalam memahami agama sangat tidak enak hanya memandang dari luarnya saja tanpa mau mengkaji ilmunya, sangat disayangkan apabila anak muda dizaman sekarang ini hanya menggunakana hawa nafsunya saja dalam menjalankan Islam, tetapi tidak tahu dalil yang diterima shahih atau tidak. Ana akan kasih contoh sedikit, ketika itu ana sekolah dan setiap pelajaran agama Islam pasti ada praktek wudhu atau shalat, ketika ana praktikan wudhu dan shalat sesuai dengan buku yang ana punya dahulu memang tidak ada perbedaan pendapat dengan guru agama di sekolah, dan gurunya pun tidak menegur kalau ini salah atau betul dan yang sangat membuat diri ana malu pada saat ini, kenapa ana tidak tanyakan kepada guru tersebut “pak dalilnya apa kalau kita harus berwudhu dan shalat dengan gerakan semacam ini?” itulah yang membuat ana menyesal sampai saat ini, betapa bodohnya dan malasnya dalam menuntut ilmu dien.

Sampai akhirnya ana mengetahui dalil-dalinya dalam berwudhu dan shalat dan ternyata sangat bertolak dengan yang ana praktekan ketika sekolah dahulu.hmmmm nasi sudah menjadi bubur, bukan berarti ana patah semangat, justru harus semangat untuk mengetahui agama yang haq itu seperti apa. Oke kita beralih ke pengalaman berikutnya, mungkin sebahagian antum sudah tahu yang namanya NII(Negara Islam Indonesia) ya ana hampir pernah kejebak dengan kelompok sesat ini, gak kebayang bisa kenal sama kelompok kaya gini, bawain dalil Al-Quran sepotong-potong tanpa membawakan dalil lainya untuk memperkuat. Untung saja ana tidak masuk dalam kelompok ini, kejadian ini ketika ana baru lulus SMA. Memank kelompok ini mencari anak-anak muda yang tidak memiliki pemahaman agama dan ketika itu ana masuk dalam kategori incaran mereka.

Ketika membeli buku dan mendapatkan buku dari orang, ana tidak tahu apakah penerbit ini adalah penerbit yang haq, mengajarkan sesuai dengan tuntunan Rasulullah yang shahih, ketika itu ana masih anak muda yang bodoh, asal beli saja. Dan ketika ana sudah mengenal dakwah yang haq baru ana tahu bahwa buku yang pernah dibeli dahulu adalah bukunya orang-orang JIL(jaringan Islam Liberal), rasanya lagi-lagi hidup dalam kebodohan tidak ada enaknya sama sekali, tapi untungnya bukunya udah ana robek-robek. Lagipula kalau kita baca buku mereka, susah sekali untuk dipahami ilmu yang gak bermanfaat deh pokoknya, jadi ana robek2 aja.

Kemudian mulailah ana masuk Kuliah, disini lah mulai jalan terbuka untuk ana yang ingin mendalami Islam dengan adanya liqo di kampus dan merupakan syarat wajib bagi mahasiswa baru ketika itu. Ternyata emank asik kumpul dalam satu liqo untuk sharing dalam agama, jadi tidak ada perbedaan antara orang yang berilmu dengan yang tidak, istilah kerenya sih bebas dalam mengutarakan pendapat yah karena yang dibahas juga bersifat umum bukan bersifat khusus atau bukan membahas yang bersifat ilmu, ada pun yang bersifat khusus itu sangat sedikit sekali yang membahas masalah ilmu, yang ada kebanyakan politik, ekonomi, film Islami ,perkembangan masyarakat sekarang ini bagaimandll ibaratnya tidak lebih dari berita koran. Awalnya ana sendiri tidak ada curiga, karena ana sendiri masih jahil, tidak tahu sebenarnya kelompok ini kelompok apa???!!! Apakah kelompok yang sesuai sunnah atau tidak, yang ana lihat kakak mentornya Isbal(menjulurkan celana melebihi mata kaki), jenggotnya dicukur, yah ketika itu ana belum tahu sama sekali apa hukumnya isbal dan jenggot.

Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintahkan untuk memelihara jenggot, membiarkannya tumbuh dan menyuburkannya serta memotong kumis dan memendekkannya. Yang seharusnya adalah mentaatinya dan mengagungkan perintah dan larangannya dalam segala perkara. Abu Muhammad Ibnu Hazm menyebutkan, bahwa para ulama telah sepakat bahwa memelihara jenggot dan memotong kumis termasuk perkara yang diperintahkan. Adalah kebinasaan dan kerugian serta akibat yang buruk bagi yang bermaksiat terhadap Allah dan RasulNya. Begitu pula meninggikan pakaian hingga di atas mata kaki, merupakan perkara yang diperintahkan, berdasarkan sabda nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Artinya : Potonglah kumis dan biarkanlah jenggot memanjang, selisihilah orang-orang Majusi” [Shahih Muslim, kitab Ath-Thaharah (260)]

“Artinya : Bagian yang melebihi mata kaki yang tertutup pakaian, maka termpatnya di neraka” [Hadits Riwayat Al-Bukahri dalam Shahihnya, kitab Al-Libas 5787]
.

Lagi-lagi ana terjebak dalam kebodohan dan lembah hitam. Dikira ini baik tahu-tahunya bukan, sampai serba salah jadinya. Alhamdulillah Allah tidak mematahkan semangat ana untuk mencari yang haq(kebenaran). Ana ingin bilang kalau hidayah itu benar-benar mahal sekali bahkan uang bermilyaran atau triliyunan atau dunia dan seisinya tidak akan sanggup untuk mengalahkan kemewahan hidayah yang ALLAH kasih terhdap hambanya, tetapi perlu diingat bahwa hidayah tidak cukup hanya mengadahkan tangan saja tanpa mau belajar dan mencari ilmunya, ALLAH akan memberikan hidayah siapa yang Dia kehendaki dan ALLAH akan menyesatkan siapa yang DIA kehendaki pula, tapi perlu diingat ALLAH itu tidak dzhalim terhadap hambanya. Dengan kita mengkaji ilmu insyaALLAH hidayah itu datang atas izin ALLAH dan mendapatkan hidayah itu tidak mudah apalagi mempertahankan hidayah itu sendiri, butuh perjuangan, letihnya badan, letihnya pikiran. Wah gak nyangka ana bisa berbagi pengalaman dengan antum semua, hmmm mudah-mudahan tidak bosan atau jenuh dengan ana.he… mungkin terlalu serius y bahasanya??!!tapi tenang aja, InsyaALLAH ana bisa diajak bercanda koq.he…mungkin mata agak sedikit lelah karena membaca note yang tulisannya kecil-kecil, boleh koq sambil diminum tehnya atau kopinya atau air mineral juga gak apa-apa, kalau bisa sih minum madu biar lebih fresh.he…oke kita lanjutkan ceritanya!!! Ana akan membawakan dengan sedikit gaya bahasa yang lebih fresh, lebih enyak dan tidak terlalu serius.he….karena kebanyakan orang sukanya yang unik tidak monoton apalagi serius banget, malah yang paling parah bisa bikin tidur karena bahasanya menggunakan istilah semua biar keliatan pinternya.he…tenang aja ana gak suka menggunakan istilah-istialah yang berada di luar nalar atau akal sehat koq(loh kaya orang ga waras aja)siiip deh…mudah-mudahan masih semangat.

Setelah ana mengetahui bahwa liqo yang diadakan kampus adalah IM(ikhwanul Muslimin), awalnya ketika mengetahui nama tersebut masih asing ditelinga, memank sih namanya berbau islam. Tapi jujur ketika itu ana sendiri tidak tahu apa tujuan kelompok ini. Walah lagi-lagi ana ini bodoh, mau belajar agama tetapi tidak tahu ilmunya bahasa gaulnya sih Taqlid(tukang ikut-ikutan tanpa cari dalil). Sampai kemudian ana mulai mempelajari sejarahnya siapa kelompok ini dan apa tujuannya. Mulailah ada teman yang membuka jalan ana untuk mengenali dakwah salaf, sebenarnya lucu sih ceritanya ketika bertemu pertama kali(udah kaya cerita sinetron aja ye…) ketika itu dia merupakan satu-satunya ikhwan yang celananya gantung di kelas, sempat ana bilang dalam hati “masih ada y orang kaya gitu pake celana”,kalau diinget-inget lucu banget malah ujung-ujungnya ana tahu dakwah salaf dari dia, afwan ya namanya gak ana kasih tahu soalnya ana blum minta izin untuk namanya dicantumin dalam note, takutnya kalau ada nama dia, entar dia minta royalty.he…gak koq Cuma becanda aja. Nah orang ini lah yang sampai sekarang menjadi sahabat akrab ana dalam menuntut ilmu yang menjadikan kami thulabul ilmy, gak kebayang nikmatnya menuntut ilmu bareng-bareng, itikaf bareng di masjid hanya untuk ikut kajian akbar, rela pergi jauh2 untuk nuntut ilmu padahal bekal pas-pasan, makan seadanya ,bau badan yang menyengat, rela digigitin nyamuk yang ganas-ganas, tetapi semua itu nikmat karena ilmu yang kami peroleh, duduk paling depan ketika kajian, wah pokonya enak banget deh, ana sendiri aja belum pernah senikmat ini dalam hidup. Oh y awalnya ana mengenal dakwah salaf masih setengah niat, diajak kajian ketika itu masih ogah-ogahan karena perbedaan dengan firqoh2 lain yang pernah ana ikuti, berbeda sekali jadi sedikit butuh waktu untuk menyesuaikannya. Waktulah yang akhirnya berbicara yang membuat ana Alhamdulillah sampai saat ini semangat dalam mengamalkan manhaj salaf ini. Semoga kita semua bisa ya!!!!amin…

Oke kalau tadi sedikit pengalaman ana mengarungi firqoh-firqoh karena kejahilan diri pribadi sendiri, kini ana akan coba menjabarkan pint-point penting “KENAPA SAYA MEMILIH DAKWAH SALAF?” loh belum inti toh(he…maap ya kali ini benar-benar panjang notenya, kayaknya harus begadang deh).

1] PENGERTIAN ‘AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH


A.Definisi Aqidah



Menurut bahasa, ‘aqidah berasal dari kata al-‘aqdu yang berarti ikatan, at-tautsiiqu yang berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat, al-ihkaamu yang artinya mengokohkan (menetapkan), dan ar-rabthu biquwwah yang artinya mengikat dengan kuat menurut istilah, ‘aqidah adalah iman yang teguh dan pasti, yang tidak ada keraguan sedikit pun bagi yang meyakininya.

Sedangkan ‘Aqidah Islamiyah adalah keimanan yang teguh dan pasti kepada Allah Ta’ala dengan melaksanakan seluruh kewajiban, bertauhid(tauhid rububiyyah, uluhiyah, dan Asma’ wash shifat Allah), dan taat kepada-NYA, beriman kepada malaikat-malaikat-Nya, Rasul-rasul-Nya, kitab-kitab-Nya, hari akhir, takdir yang baik maupun buruk dan mengimani seluruh prinsip-prinsip agama.

B. Denisi Salaf

.

Menurut bahasa, Salaf artinya orang yang terdahulu(nenek moyang), yang lebih tua dan lebih utama . Salaf berarti para pendahulu. Menurut istilah, Salaf berarti generasi pertama dan terbaik dari ummat Islam yang terdiri dari para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, dan para imam pembawa petunjuk pada tiga kurun (generasi/massa) yang pertama dimuliakan oleh Allah Ta’ala, mana dalilnya???.

sebagai mana sabda Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam,

“Sebaik-baik masa adalah pada masaku ini(yaitu masa para Sahabat), kemudian yang setelahnya(masa Tabi’in), kemudian yang setelahnya(masa Tabi’ut Tabi’in).”[Shahih: HR.Al-Bukhari(no.2652)] .

Ahlus Sunnah wal Jamaah dikatakan juga as-Salafiyyun karena mereka mengikuti manhaj salafush shalih dari para Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in. kemudian setiap orang yang mengikuti jejak mereka serta berjalan berdasarkan manhaj mereka –di sepanjang masa, -mereka ini disebut Salafi karena dinisbatkan kepada Salaf. Salaf bukan kelompok atau golongan seperti yang dipahami kebanyakn orang, tetapi sebagai manhaj(jalan hidup dalam ber–‘Aqidah, beribadah, berhukum, berakhlak dll) yang wajib diikuti setiap muslim. Jadi pengertian Salaf dinisbatkan kepada orang yang menjaga keselamatan ‘aqidah dan manhaj menurut apa yang dilaksanakan Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallaahu ‘anhum sebelum terjadi perpecahan dan perselisihan.

B. Denisi Ahlus Sunnah wal Jama’ah

.
As-Sunnah menurut bahasa adalah jalan atau cara, baik jalan itu terpuji maupun tercela.
Menurut istilah ulama ‘aqidah, As-Sunnah adalah petunjuk yang telah dilakukan oleh Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat radhiyallaahu ‘anhum baik dalam ilmu, I’tiqad(keyakinan), perkataan maupun perbuatan. Dan Ini adalah As-Sunnah yang wajib diikuti, orang yang mengikuti akan dipuji dan orang yang menyalahi akan dicela.

Al-Jama’ah menurut ulama ‘aqidah adalah generasi pertama dari ummat ini, yaitu generasi Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, serta orang-orang yang mengikuti dalam kebaikan hingga hari kiamat, karena berkumpul di atas kebenaran. disebut Al-Jama’ah, kerena bersatu di atas kebenaran, tidak mau berpecah-belah dalam urusan agama, berkumpul di bawah kpemimpinan para imam(yang berpegang kepada) al-haqq(kebenaran), tidak mau keluar dari jama’ah mereka dan mengikuti apa yang menjadi kesepakatan Salaful Ummah5 .

Jadi Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah orang yang mempunyai sifat dan karakter mengikuti Sunnah Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan menjauhi perkara-perkara baru dalam agama.
Mereka disebut juga Ahlul Hadits, Ahlul Atsar, Ahlul-Ittiba’, ath-Thaa-ifattul Manshuurah(golongan yang mendapatkan pertolongan Allah), al-Firqatun Naajiyah(golongan yang selamat), dan al-Ghurabaa’(orang asing).

SEJARAH MUNCULNYA ISTILAH AHLUSSUNNAH WAL JAMA’AH

.
Istilah Ahlus sunnah wal jama’ah ini telah ada sejak generasi pertama ummat Islam pada kurun yang dimuliakan Allah, yaitu generasi Sahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in, ada gak dalilnya??

Ada koq coba deh simak!!!!

“PADA HARI YANG DI WAKTU ITU ADA MUKA YANG PUTIH BERSERI, DAN ADA PULA MUKA YANG HITAM MURAM…..’”(QS. ALI’IMRAN:106)
Abdullah bin ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhuma berkata “yakni pada hari kiamat, ketika menjadi putih wajah-wajah Ahlus Sunnah wal Jamaah. dan menjadi hitam wajah-wajah ahlul bid’ah dan perpecahan .

Ayyub as-Shiktiyani rahimahullaah, ia berkata,”Apabila aku dikabarkan tentang meninggalanya seorang ahlus sunnah seolah-olah hilang satu anggota tubuhku.”
Sufyan ats-Tsauri rahimahullaah berkata,”Aku wasiatkan kalian tetap berpegang kepada ahlus Sunnah dengan baik, karena mereka adalah al-ghurabaa’(orang asing). Alangkah sedikitnya Ahlus sunnah wal jama’ah.

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahulaah. Berkata dalam muqaddimah kitabnya, As-Sunnah,”inilah madzhab ahlul ‘ilmi, ash-haabul atsar dan Ahlus Sunnah, yang mereka dikenal sebagai pengikut Sunnah Rasul Shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan para Sahabat radhiyallaahu ‘anhum hingga pada masa sekarang ini…”

2]KARAKTERISTIK DAN KEISTIMEWAAN ‘AQIDAH AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH

.

1. Sumbernya otentik
2. Berpegang teguh kepada prinsip berserah diri kepada ALLAH dan kepada Rasul-Nya Shallallaahu ‘alaihi wa sallam
3. Sejalan dengan fitrah yang suci dan akal sehat.
4. Mata rantai sanadnya sampai kepada Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa sallam, para Sahabatnya, para Tabi’in, serta para imam yang mendapatkan petunjuk.
5. Jelas dan gamblang
6. Bebas dari Kerancuan, kontradiksi, dan kesamaran.
7. ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah merupakan faktor utama bagi kemenangan dan kebahagian abadi di dunia dan akhirat.
8. ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah ‘Aqidah yang dapat mempersatukan ummat
9. Tetap utuh, kokoh, dan langgeng sepanjang masa.
10. Allah menjamin orang yang menetapi ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dengan kehidupan yang mulia.

Itulah beberapa point kenapa saya memilih manhaj Salaf. Sebenarnya note ini merupakan note2 sebelumnya yang berjudul “Mulia dengan Sunnah”. Pasti banyak orang yang bertanya-tanya seperti ini “loh kan kelompok-kelompok lain mengaku ahlus sunnah wal jamaah!!!apa bedanya sama ahlus sunnah lainnya??” yah anggapan tersebut sering ana jumpai, yang mengaku kelompok mereka merupakan ahlus sunnah wal jamaah, berkali-kali ana ingin bilang kalau orang bodoh dalam agama pasti mereka tidak bisa membedakan mana yang disebut ahlus sunnah wal jamaah mana yang bukan(hanya menyebut diri sebagai ahlus sunnah pada hakikatnya bukan sama sekali). Yah itu lah hidup dalam kebodohan sangat merugi, seperti yang sudah ana katakan di atas, dikiranya ini baik tahu-tahunya bukan, dikiranya ini sunnah tahu-tahunya bid’ah. Ilmu lah yang akan menjawab semua kebodohan, mustahil seseorang ingin mengetahui mana tauhid, mana syirik,mana sunnah,mana bid’ah tanpa mencari ilmunya. Cuma hanya menunggu dan menunggu, tidak akan bisa, ilmu itu wajib kita cari. Terkadang banyak juga masyarakat yang lebih senang terima blak-blakan omongan ust nya ”loh kan kata ust saya berkata seperti ini,pasti benar lah,wong namanya ust” ini juga salah kaprah dalam masyarakat, jangan menganggap ust itu sebagai orang yang terbebas dari kesalahan. Mana ada manusia yang tidak luput dari kesalahan dan dosa. Gimana?masih mau menjadi orang bodoh?ana akan kasih beberapa contoh lainnya yang InsyaAllah bisa menjadi renungan untuk kita semua.

Banyak orang-orang yang sudah bergelar prof,doktor, dll tetapi tidak tahu Tauhid, tidak Tahu Sunnah, Tidak tahu syirik, Tidak Tahu bid’ah. Ini sama saja gelar mereka tidak ada apa-apanya, sama saja mereka dengan orang-orang awam, karena apa? Mempelajari ilmu dien(agama) itu wajib bagi setiap muslim dan tidak ada penghalangnya, sedangkan mempelajari ilmu dunia, seperti kedokteran, komputer, pertanian dll merupakan fardu kifayah yaitu gugur kewajibannya apabila yang lain sudah mengamalkannya atau mengerjakannya. Jadi jangan kita anggap karena seorang prof, DR dengan seenak-enaknya tidak belajar agama. Malah saya katakan, misal ada dua orang yang pertama dia tidak ahli ilmu kedunian, tetapi tahu hak-hak ALLAH sedangkan yang kedua merupakan orang terkenal dengan gelar PROFESORnya tetapi tidak tahu Tauhid, bagaimana wudhu dan shalat yang benar, saya akan katakan orang yang pintar adalah orang yang pertama meskipun tidak memiliki gelar apa pun. Jadi intinya kita jangan melihat orang dari jabatan Dunianya saja, tapi lihat agama seseorang.

“Ketauhilah ilmu Syar’I adalah cahaya Allah, dan cahaya Allah tidak akan diberikan oleh orang-orang yang berbuat dosa dan maksiat” oleh al ilmam ibnu qayim.

Jadi orang yang dikatakan berilmu adalah orang-orang yang mengetahui hak-hak ALLAH. Timbul lah pertanyaan di dalam diri kita, sudahkah kita mengetahui hak-hak Allah?sudahkah kita mengamalkan apa yang diajarkan Rasulullah?.

Ketika masa-masa jahil dahulu sangat berat sekali langkah kaki ini untuk menuntut ilmu, mengeluarkan tenaga, pikiran bahkan untuk membeli kitab saja enggan Rasanya. Benarlah bahwa ilmu itu adalah cahaya dan cahaya itu tidak akan diberikan kepada orang-orang yang berbuat dosa dan maksiat. Apakah kita tidak ingin mendapatkan cahaya Allah?apakah kita tidak menginginkan perjumpaan dengan Allah kelak?. Ya pelajari ilmu yang shahih apa yang dibawakan oleh Rasulullah dan yang diajarkan oleh para Sahabat. Banyak ketika kita tanyakan kepada anak muda untuk menyuruhnya menuntut ilmu, dengan pasrah mereka mengatakan “ya saya seperti ini karena udah kebiasaan teman-teman,sulit rasanya bepisah” apa ini perkataan yang baik dan pantas yang keluar dari bibir kita?mana yang lebih engkau Takutkan adzhab Allah atau sekedar teman yang jahil(bodoh) dalam agama. Kalau saya bilang sebenarnya mereka sadar, tetapi mereka lebih takut untuk kehilangan teman daripada hidayah Allah. Beruntunglah orang-orang yang telah mendapatkan hidayah dan petunjuk Allah.

Duduk dengan orang-orang yang baik dan shalih yang dipercaya dalam keilmuan mereka atau amanat mereka, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :

"Artinya : Permisalan teman duduk yang baik dan buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan pandai besi, penjual minyak wangi tidak akan melukaimu, mungkin engkau membelinya atau engkau mendapatkan baunya. Sedangkan pandai besi akan membakar badanmu atau pakaianmu, atau engkau akan mendapatkan bau yang tidak sedap”. [Hadits riwayat Bukhari]

Maka wajib bagimu wahai pemuda, untuk berteman dengan orang-orang yang sudah dikenal berakhlak baik dan menjauh dari akhlak yang jelek dan perbuatan yang hina, hingga engkau mengambil dari teman itu "madrasah" darinya engkau mendapatkan pertolongan untuk berakhlak baik.

Hendaknya seseorang memperhatikan apa yang diakibatkan oleh akhlak yang buruk, karena akhlak yang buruk dibenci, dan buruk akhlak itu dijauhi, dan buruk akhlak itu disifati dengan sifat yangjelek.

Maka jika seseorang mengetahui bahwa berakhlak buruk itu mengantarkan kepada hal ini, maka hendaknya ia menjauhinya.

Itulah alasannya ana meninggalkan teman-teman yang jauh dari agama, ana tidak ingin larut dalam kebodohan, hobinya hanya kumpul-kumpul, bermain musik, mendengarkan nyanyian. Benar-benar terasa mati hati ini ketika dibacakan firman Allah. Jadi apakah masih mau berteman dengan orang-orang yang jauh dari agama?silahkan dijawab sendiri!!!

sedikit point tambahan kenapa saya memilih manhaj salaf, terkadang saya mengamati kajian-kajian yang ada di TV koq Hijab(pembatas) antara ikhwan dan akhwatnya terbuka lebar, artinya si ikhwan dan akhwat dengan jelas bisa melihat atau berpandang-pandangan. Sedangkan terkadang ust nya sendiri suka bilang “jagalah hati jangan kau kotori” mungkin antum semua sudah tahu kata-kata tersebut, bagaimana mungkin kita bisa menjaga hati kalau mata ini saja masih bergerak bebas untuk melihat wanita yang jelas-jelas hijabnya tidak sempurna. Dan yang lebih saya sayangkan ust-ust nya ketika membawakan ceramah hampir tidak pernah membawa kitab, ceramah hanya dengan mik saja. Kalau yang dia ceramahkan ketika membawakan hadits dan periwayatannya salah bagaimana?.

Saya teringat cerita imam-imam terdahulu yang hafal ribuan hadits tetapai mereka para imam tetap membawakan kitab untuk diajarkan kepada murid-muridnya, karena kehati-hatiannya. masyaAllah sungguh ana takjub dan bangga bisa mengenal dakwah Salaf, karena setiap ana kajian yang dibahas pasti dengan membawakan kitab. Sehingga yang kami dapatkan adalah ilmu bukan omongan ust nya tetapi ilmu yang telah Rasulullah Ajarkan dan ust hanya sebagai perantara dalam menyampaikannya.wallahu a’lam(semoga mengerti maksud saya).

Dan berikutnya yang ana amati ada sebagian ust di TV yang bermain film komedi, apa gak aneh jadinya??!!! Mestinya sosok ust yang menjadi panutan masyarakat islam dalam memberikan materi dakwah, tapi ini malah menjadi pemain komedi, kita tahu bahwa komedi itu sendiri banyak dustanya.hmmmm kalau kita tidak pintar-pintar memilih ust akan menjadi bumerang buat diri kita sendiri. Saya ingin bertanya apakah sebagian kita sudah mengetahui bahwa alat-alat musik dan nyanyian dalam islam itu haram(dilarang)?pernahkah kita melihat sebagian ust yang berdakwah menggunakan musik sebagai sarana dakwah? Ya itulah fenomena yang terjadi di kalangan masyarakat, apa ini yang disebut ust yang mengetahui sunnah Nabi?! Padahal jelas dalam islam musik itu haram, apa dalilnya ?
Sesungguhnya mendengarkan nyanyian atau lagu hukumnya haram dan merupakan perbuatan mungkar yang dapat menimbulkan penyakit, kekerasan hati dan dapat membuat kita lalai dari mengingat Allah serta lalai melaksanakan shalat. Kebanyakan ulama menafsirkan kata lahwal hadits (ucapan yang tidak berguna) dalam firman Allah dengan nyanyian atau lagu.

“Artinya : Dan diantara manusia (ada) orang yang mempergunakan ucapan yang tidak berguna” [Luqman:6]

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu bersumpah bahwa yang dimaksud dengan kata lahwul hadits adalah nyanyian atau lagu. Jika lagu tersebut diiringi oleh musik rebab, kecapi, biola, serta gendang, maka kadar keharamannya semakin bertambah. Sebagian ulama bersepakat bahwa nyanyian yang diiringi oleh alat musik hukumnya adalah haram, maka wajib untuk dijauhi. Dalam sebuah hadits shahih dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau berpendapat.

“Artinya : Sesungguhnya akan ada segolongan orang dari kaumku yang menghalalkan zina, kain sutera, khamr, dan alat musik” [Al-Bukhari].

Bagaimana mungkin dakwah dengan nyanyian, sungguh aneh dan bodoh, terasa sekali tidak ada ilmunya. Yang dikatakn ilmu adalah perkataan ALLAH, perkataan Rasulullah dan perkataan para sahabat itu baru ilmu, bukan dengan nyanyian, orang bisa saja mabuk sambil bernyanyi. Saya pernah diberitahu bahwa ada ust yang gencar mendakwahkan lewat dangdut(sebahagian dari kita sudah mengetahui), banyak sekali masyarakat yang kagum dan menggemari musiknya tetapi yang anehnya ada orang mabuk sambil joged dengan nyanyiannya. Lucu kan jadinya, mau berdakwah, tetapi tidak ada ilmunya, malah joged-joged. Y sudahlah emank lucu mau diapakan lagi, mudah-mudahan mereka mendapatkan hidayah dan petunjuk begitu pun dengan kita semoga senantiasa mendapatkan perlindungan oleh ALLAh.

Kalau ada UST yg menolak Dakwah Salaf, coba deh tanya ke UST nya langsung "Ust mau Surga gak?"psti jwabannya ya mau lah,"emank ust dijanjikan masuk Surga?"pasti jawabannya gak(Kalo ngaku ust nya dijanjiin masuk surga, lebih baik tinggalin majelisnya deh udah sesat tuh namanya!!!),"ust tau gak siapa yg pertama kali ditarbiyah oleh Rasulullah?",pasti jwabnnya para Sahabat donk,”ust tahu gak siapa orang yang pertama kali beriman setelah Rasulullah?"pasti jawabnya para sahabat adek yang manis,”ust tahu gak orang yang dijanjikan surga oleh Allah setelah Rasulullah?”jawabannya pasti para sahabat,”ust tahu orang yang berilmu setelah Rasulullah?”,jawabanya para sahabat naq,”ust tahu gak orang yang paling baik amalnya setelah Rasulullah?”,waduuh ya para sahabat dunk,” ust yang baik tahu gak siapa yang menemani Rasulullah dalam berjihad?”, waduh anak manis ya jawabannya para sahabat dunk, mereka kan gagah-gagah dan pemberani,”nah ust tahu gak kalau orang yang paling paham dengan ilmu yang dibawakan oleh Rasulullah?”,banyak nanya nih kaya quis aja, ya jawabannya para sahabat lah,”nah itu ust tahu,KENAPA UST MENOLAK DAKWAH SALAF?" bgung deh tu UST pastinya ,malah lbih pinter muridnya...kalau tuh ust masih ngeyel berarti ust nya sombong, merasa lebih pintar dari sahabat Rasulullah. Wallahu a’lam.

Rasanya saya cukupkan dahulu sampai sini, InsyaALLAH akan ada lanjutannya karena banyak sekali yang ingin dibahas. Oh ya apabila antum-antum semua punya pengalaman yang menarik dalam mengenal dakwah silahkan ya berbagi cerita dengan ana, ana akan sangat senang sekali. Jujur ana sangat bahagia bertemu dengan orang-orang yang telah mendapatkan hidayah Allah dan orang seperti itu telah banyak bercerita kepada ana, makanya ana berani untuk menulis note ini, yup udah malem nih, semoga semangat selalu y dan jangan bosan-bosan untuk menegur ana apabila ada kesalahan, ana akan terima dengan lapang dada. Oh ya untuk memperjelas mulia dengan manhaj salaf antum semua bisa baca kembali di note saya yang berjudul”mulia dengan sunnah” InsyaAllah pembahasannya jelas dan gamblang Barakallahu fyk. Wasalamu’alaykum….

Sumber :  http://alfanizzah.blogspot.com/2010/02/kenapa-saya-memilih-dakwah-salaf.html